Jaringan teroris mengatas namakan agama tertentu memang sedang trendi-trendinya belakangan tahun ini di timur tengah sana. Namun seirin...


Jaringan teroris mengatas namakan agama tertentu memang sedang trendi-trendinya belakangan tahun ini di timur tengah sana. Namun seiring berjalanya waktu organisasi radikal itu mulai melebarkan sayapnya di negeri ini. Meledakan dan membunuh berlandasan jihad yang dalam arti berjuang dengan sungguh-sungguh dijalanNYA dengan menjalankan misi utama untuk menegakan nilai agama. Orang-orang tersebut percaya bahwa Tuhan akan menempatkan dirinya kelak ke surga, karena alasan membela dan berjuang dijalan Tuhan. 

Namun apa yang menurut mereka benar, belum tentu benar menurut kita. Kembali ini soal persepsi, konteks dan sudut pandang. Namun itu sebabnya apakah masih ada kebenaran yang sejati di dunia ini?  Namun sisi positifnya mereka masih percaya adanya Tuhan dan balasanya, sedangkan sebagian dari kita malah membunuhnya.

pada suatu pagi, seorang datang ke sebuah tempat orang ramai bertemu. Ia mengumumkan: "Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya." Si pembawa kabar, tentu saja dianggap "gila", membawa sebuah lentera yang bernyala. Ia tahu, "kematian Tuhan" mau tak mau menimbulkan pertanyaan yang mengusik, dalam kegelapan yang semesta, ketika seakan-akan mentari tidak akan terbit esoknya. 

Kita bayangkan rasa takut akan nihilisme di wajah si pembawa lentera, tapi ia tak marah. Ia menerima kenyataan ini: orang akan selalu menghendaki adanya sumber yang tunggal dan kekal, tapi akan selalu gagal menemukannya. Adegan tersebut terdapat pada salah satu novel Nietzsche, orang gila tersebut digambarkan sedang ketakutan dan paling sadar diantara orang-orang bahwa kita semua-lah yang sudah membunuh Tuhan.

Subuh adzan berkumandang, tanda sholat sudah ditegakan. Namun disebuah kamar, seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Dia bangkit dari ranjangnya bukan untuk mengambil wudhu, namun mencari handphone yang hilang dari pandangannya, setelah ditemukannya handphonenya lantas dia berangkat tidur lagi.

Kitalah pembunuh Tuhan, kenyataannya seperti itu. Kita menggantikan posisinya dengan berhala berbentuk handphone, kita meragukan kebaikannya dengan ketakutan tidak bisa mencari rezeki esok hari. Kenapa saat kita bangun tidur hal yang kita cari adalah handphone, kenapa tidak Tuhan dulu yang kita cari? Apakah kita lebih membutuhkan handphone dari pada Tuhan?

Sedangkan teroris sana sedang gencar-gencarnya berjuang dijalan Tuhan. Kita malah menjauh dan membuat jalan sendiri dengan tuhan-tuhan yang kita ciptakan sendiri. Sebenarnya siapa sekarang yang keluar dari ajaran? Siapa sekarang yang disebut radikal? Siapa sekarang yang tidak beragama? Penodaan agama? Mereka yang teguh dengan landasan Jihad atau kita yang selalu merasa suci dan tidak berdosa dihadapannya.

Pada dasarnya manusia hidup selalu membutuhkan pegangan, jika suatu ketika manusia kehilangan pegangannya. Biasanya pegangan disini diidentikan dengan Tuhan. Maka dari itu muncul wacana bahwa Tuhan itu telah mati.maja secara tidak langsung kita akan mencari pengganti dan mencari pegangan itu.

Karena itu tidak ada salahnya Nietzsche mengemukakakan bahwa "Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya." Maka dari itu berangkat dari nihilisme kita bisa kembali menghidupkan Tuhan. Dengan demikian jika kita semua berangkat dari nol, dengan mengosongkan diri kita atas tuhan-tahan yang kita ciptakan sendiri dan kita takuti. 

Dengan kembali pada sang maha Esa dan melaksanakan kewajiban sebagai mana seharusnya umat beragama dan menjauhi segala larangan yang sudah ditentukan, selalu optimis terhadap kehidupan kedepan, lagi tidak meragukan kebaikan, nikmat dan pertolongannya. Kita bisa kembali menghidupkan Tuhan pada diri kita. Seperti teroris itu, kita akan terus bersama dengan Tuhan.

Hidungnya yang lancip dan mancung memberi kesan sunyi, tetapi bibir mungil di bawahnya membuka dan menutup dengan halus, seperti lingka...


Hidungnya yang lancip dan mancung memberi kesan sunyi, tetapi bibir mungil di bawahnya membuka dan menutup dengan halus, seperti lingkaran lintah kecil yang indah. Bahkan, ketika ia diam, bibir itu terlihat seperti bergerak-gerak...Garis kelopak matanya tidak naik atau turun. Seolah-olah dengan alasan tertentu, garis itu sengaja ditarik lurus melintasi wajahnya. Ada kesan yang sedikit lucu di sana, tetapi alisnya yang agak menurun dengan bulu-bulu pendek yang tebal sangat pantas menaungi mata itu. Tak ada yang luar biasa pada lingkar wajahnya yang bulat dan sedikit lancip. Kulitnya seperti porselen putih yang dilapisi warna merah muda dan lehernya masih jenjang dan belum menggembung. Dengan semua itu, ia lebih tepat disebut bersih ketimbang cantik.

Sebenarnya novel “Daerah Salju” karya: Yasunari Kawabata ini saya beli sudah cukup lama, mungkin satu tahun yang lalu di toko buku daerah Surabaya. Alasannya, saat itu saya tertarik dengan keterangan di sampul belakang novel tersebut yang bertulis “pemenang nobel kasusastraan tahun 1968”, selain itu saya juga ingin membaca karya novelis Jepang selain Haruki Murakami atau Natsumo Soseki. Namun setelah sekian lama saya anggurin, baru kemarin saya menyempatkan diri untuk membacanya.

Bercerita tentang Shimamura seorang lelaki berumur 30-an ( menurut saya) yang terjebak cinta dengan Komaku seorang Geisha (wanita penghibur) yang berada di daerah salju tersebut. Hubungan yang mereka jalin sebenarnya sangatlah sederhana namun juga cukuplah lengkap. Tidak ada saling paksa-memaksa, tidak ada saling menuntut, dan tidak ada yang saling memberikan janji manis. Sebenarnya mereka berdua ingin agar bisa terpisah, toh Shimamura juga sudah beristri dan mempunyai anak, akan tetapi semakin mereka saling menjauh, semakin dekat juga perasaan cinta mengikat hati mereka berdua. Perasaan yang mengengkang, yang akhirnya membuat mereka berdua sadar. Bahwasanya manusia memang tidak bisa membohongi isi hatinya sendiri.

Shimamura begitu bergantung dengan Komako, sedangkan Komako tidak bisa hidup tenang jika tak di samping Shimamura. Hal itu yang membuat Komaku setiap malam selalu berkunjung ke kamar Shimamura, walau dengan keadaan lelah dan mabuk. Shimamura agak kurang mengerti kenapa Komaku bisa ingin mendekatinya. Shimamura juga tidak menampik bahwa dia juga ada rasa dengan Komako. Namun didalam hati mereka berdua sebenarnya sadar, bahwa cinta mereka tidak akan terkabulkan sejak pandangan pertama.

Keunggulan dalam novel ini sebenarnya terletak pada fokus pembaca yang disuguhkan hanya pada dua karakter saja, walau ada karakter pendukung yaitu Yuko, namun secara garis besar hanya menceritakan Shimamura dan Komako saja.

Daerah Salju yang dalam bahasa Jepang “Yukiguni” awalnya berasal dari kumpulan cerita pendek, dari tahun 1935 sampai 1948. Cerita ini terpisah menjadi Sembilan bagian, dua bagian ditahun 1935, lima bagian di tahun 1937 dan dua bagian lagi ditahun 1940. Baru di tahun 1948 kumpulan cerita pendek tersebut terfinalisasikan.

"Yukiguni", sendiri adalah sebuah nama daerah, yang bisa dicapai melalui terowongan panjang di bawah pegunungan perbatasan antara Gunma (Kozuke No Kuni) dan Niigata (Echigo No Kuni).

Buku ini sangat recommended sekali untuk kalian baca, selain bisa membayangkan lembutnya salju dimusim dingin. Juga merasakan roman dengan konflik cerita yang sederhana namun sangat mendalam. Dan saya menyesal, karena baru sempat menyelesaikannya sekarang.

Sekitar pukul sebelas malam kemarin (26/11) tersebar sebuah video tentang anjuran jangan mempercayai berita hoax dari menteri komunik...



Sekitar pukul sebelas malam kemarin (26/11) tersebar sebuah video tentang anjuran jangan mempercayai berita hoax dari menteri komunikasi dan informasi badan eksekutif mahasiswa (BEM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Memang tidak ada yang salah dari ucapan beliau, seperti “mantan saja bisa dicuekin masa berita hoax tidak” Namun publik UTM yang punya mantan ataupun yang tidak punya mantan dibuat bingung oleh pernyataan beliau.“berita hoax? Emang ada berita hoax yang tersebar ya sekarang?”.

Memang di UTM sedang memanas karena pesta politik pemilihan presiden mahasiswa dan wakilnya.Kampus yang digadang-gadang menjadi miniatur sebuah Negara. Akan tetapi publik UTM agak tidak peduli dengan pemilu ini, salah satu kawan, saya tanya tentang hal tersebut menjawab “Ah persetan dengan pemilu ini, presma atau wapresma aku tidak peduli, yang penting besok saya kuliah, praktikum dan dapat ipk tiga.” Jika ditelaah jawabannya memang tidak sepenuhnya salah, karena tahu atau tidak, dan memilih atau tidak, serta siapapun kandidat yang terpilih juga tak akan berpengaruh banyak dengan kuliahnya.

Namun jika begitu, dalam situasi politik UTM saat ini, tersebarnya berita hoax memang sangatlah mungkin terjadi. Entah itu oleh lawan politik, sekutu bahkan kawan sendiripun rasanya mungkin. Seperti yang kita tahu, apapun akan dilakukan untuk menang. Berita dan isu-isu hoax adalah salah satu hal senjata mujarab untuk kepentingan menjatuhkan lawan. Maka dari itu tidak salah jika pak menteri memperingatkan agar kita bisa membedakan berita hoax dan mana yang tidak. “kalian sudah mahasiswa harus bisa membedakan mana berita hoax mana yang tidak” ucapnya. Akan tetapi publik UTM masih bingung, mana sebenarnya berita hoax yang dimaksudnya itu?

Setidaknya ini menjadi pengingat bagi publik UTM agar lebih cermat dan teliti dalam melihat, mendengar dan menangkap sebuah informasi disaat pesta demokrasi seperti ini. Karena semua bentuk informasi dari gambar, pamflet, banner dan ucapan para calon presiden mahasiswa (presma) dan wakil presiden mahasiswa (wapresma) bisa jadi hanya hoax. Semua calon sudah menyiapkan visi dan misi, akan tetapi semua pasti tahu bahwa visi dan misi yang diusung oleh masing-masing calon adalah sebuah informasi dan cita-cita. Tetapi, akan menjadi hoax jika tidak terlaksana. Mungkin ini yang dimaksud pak menteri, kita harus lebih tahu dan cermat memilih pemimpin lewat sumber informasi yang ada. Dengan tidak memilih calon presma dan wapresma yang melebih-lebihkan suatu hal. Seperti visi dan misi yang tidak mungkin tercapai, janji-janji pemanis yang tak masuk akal, atau mungkin bentuk sosialisasi pengenalan (pamflet, banner, grafis) yang berlebihan. karena kita paham sendiri berlebihan itu tidak baik. banner yang besar dimasing-masing sudut UTM misalnya.

Namun jangan salah dalam lanjutan video tersebut pak menteri manganjurkan kita untuk berkhidbah, menjelaskan definisinya serta memberikan gestur angka dua. Apa coba maksudnya? Bukankah berkhidbah itu jargon dari salah satu calon. Apakah ini bentuk dari ajakan untuk memilih salah satu calon tersebut? Publik pun rasanya sudah mengerti apa yang dimaksud oleh pak menteri. Dan rasanya tak baik jika salah satu jajaran tinggi di kampus memilih untuk condong ke salah satu calon presma dan wapresma, condong sih boleh tapi ya jangan blak-blakan juga pak.

Dari sini kita harusnya bisa bersikap, mana yang layak jadi pilihan kita kelak. Semua calon sama saja, semua visi dan misi sama saja, semua janji-janji rasanya intinya juga seru pa. Toh semua visi, misi dan janji terdengar sama seperti capres dan cawapres sebelum mereka. Ingin merekatkan semua organisasi intra di kampus, yang ingin mementingkan hak para mahasiswa, dan lebih berkontribusi bagi UTM dan masyarakat. Presma dan wapresma dari dulu visi dan misinya juga begitu, tapi apa yang kalian rasakan, apakah ada yang tercapai?

Kami akan tetap berusaha menyelamatkanmu, di dalam ruangan terbakar itu kami akan tetap berusaha. Begitulah suara dari toa yang bera...



Kami akan tetap berusaha menyelamatkanmu, di dalam ruangan terbakar itu kami akan tetap berusaha. Begitulah suara dari toa yang berasal dari mobil regu penyelamat. Serak dan lantunan putus asa. Sebelumnya suara deru dan rentetan ledakan menyeruak lebih dulu dikeheningan pagi, dan tiba-tiba kobaran api membakar atap, menggubah langit cerah menjadi seketika gelap. Bangunan itu tidak lagi terlihat seperti bangunan, hanya ada api yang menjalar-jalar mencari mangsa. Hanya gemerlap panas lalu menyipitkan mata, dan suara toa itu masih berserak berusaha menyelamatkan orang yang terkunci di dalam, tentunya itu hanya penenang.

Suara lolongan tolong, memiriskan pendengaran, gedoran pintu bangunan nyaring dari dalam. Mereka yang ada di dalam hanya minta satu hal, tolong bukakanlah pintu itu.

Pintu itu adalah malapetaka kami jika tak terbuka. Kami memohon kepada siapa saja, tolong bukalah. Wahai toa yang hanya berkoar, apakah kau bisa membukanya demi kami? Jika kau bisa bukalah! Jika tidak bisa, cukup kirimi kami doa.

Matahari tak tertembus, angin menjadi musuh alami. Akan tetapi kami akan tetap meyelamatkanmu.

Akan tetapi siapa kau wahai suara toa yang hanya bersuara?

Kami adalah sumber selamat. Kami yang sedang berjibaku melawan asap dan ledakan. Kami yang masih berusaha menyelamatkanmu. Kami yang tetap berusaha mencarimu, korban yang terkunci di dalam bangunan. Kami adalah sebuah regu penyelamat, yang tak dan sedang berdinas, yang tak berpangkat, tak berpasukan. Kami adalah pertanyaan yang penasaran, sebuah pencarian yang terbatas.

Katakana lagi apa yang sedang kau cari?

Kami berbunyi seperti Guntur, kami tak tampak seperti garis lintang, kami tertera seperti bintang penanda arah. Kami seperti kamu, namun bedanya kami diluar. Kami adalah yang akan menyelamatkanmu. Kami akan menemukanmu, menghapus peluh hangat di ubun-ubunmu. Mengucurkan air di badanmu, memompa oksigen untuk paru-parumu. Kami adalah rindang yang meneduhkanmu. Korban di balik pintu, kami berhasil! Pintu itu terbuka untukmu, keluarlah!

Namun dengar, coba kau dengar sekali lagi, di dalam sana masih ada suara.

Bukankah kami sudah bilang dari awal, kami akan menyelamatkanmu, dalam keadaan apapun. Berserakan ataupun utuh, sawo matang ataupun gosong, nyata ataupun fana. Nyatanya pintu yang tak mungkin bisa dibuka itu, berhasil kami buka. Jika kalian tanya solusi untuk yang terjebak di dalam, kami sudah punya. Jika tidak ada jalan keluar, buatlah jalan keluar itu sendiri. Robohkan tembok samping bangunan dan biarkan teriakan nanar minta tolong itu keluar.

Tapi benar saja, masih ada teriakan minta tolong di dalam, kali ini aku yakin wanita.

Kami tetap akan mencarimu. Kami meniti titik-titik dengan selang air. Melangkahkan kaki di tengah bara. Kami hanya ingin tahu, kematian manakah untukmu, siapakah yang menjemputmu, dan adakah yang terbaring dengan mata merah memimpikan api.

Kau tak akan mendapatkan apa-apa, saudara yang berkoar lewat toa, teriakan wanita itu telah terkulum oleh hawa panas duka nestapa. Ledakan-ledakan itu telah memungutnya, api dan bara telah menampung putus asa sampai akhir napasnya. Di sana gelap hanya sebentar, kau tahu? Sebuah khayal bagi petugas pemadam, sebuah ilusi bagi warga sukarela, sebuah jarak yang hanya syarat.

Akan tetapi kami akan mencarimu, hidup ataupun mati. Wahai semua teriakan tolong, kami pasti akan. Ke dalam ruangan, ke sisa-sisa tumpukan hangus bangunan. Melihat gosong tubuhmu, membau getir panggang badanmu, mengenang teriakanmu, sampai ke dasar kenangan kantung sendiri. Terlepas dari tukang las itu, kami bersalah. Hallo kerena kami semua bersalah.

Aku kurang mengerti tentang memahami perasaan, kalaupun aku bisa lantas mau apa? Bukankah lebih baik diam saja dan bertingkah sedia kala...


Aku kurang mengerti tentang memahami perasaan, kalaupun aku bisa lantas mau apa? Bukankah lebih baik diam saja dan bertingkah sedia kala? Bagi ku itu lebih bijak dilakukan. Pernah rasanya menjadi orang yang pendiam, namun hati meronta memaksa paham dengan rasa. Kegundahan, picisan, benci dan isi hati mereka rasanya dengan diam pun aku mengerti. Mengapa coba kau sembunyikan? Bukankah kau orang yang tak pandai menyembunyikan kegelisahan hatimu? Ayolah selain hatimu sendiri, ada hal lain yang lagi-lagi kau bohongi.

Rasanya aku tidak perlu cerita, percuma. Dulu pernah aku menguntit semua isi harimu, bertanya dengan orang yang ku kenal dan berjalan diam-diam di belakang mu. Sebetulnya itu tidak baik dilakukan, akan tetapi untuk memahamimu aku harus melakukan apa selain begini? Terang-terangan? Gila saja! Kau kira, aku cukup berani muncul tiba-tiba dihadapanmu. Keberanian ku belum cukup, jangankan menyapa, melirik saja mata terpaksa malu. Ayolah raga harusnya kau mendukung kemauan hatimu, jangan malah sebaliknya. Bukankah kita harus selalu percaya dengan kata hati? Namun entah mengapa selalu kalah dengan percaya diri.

 Andaikan waktu itu, saat selagi kau berdiri menunggu diambang pintu sambil menatap langit yang menurunkan air berkahnya. Waktu itu aku tatap kau dari jarak amanku, memperhatikanmu tak perlu terlihat bagiku. Namun hati lagi-lagi memaksa lebih dekat, berkenalan? Gila saja! Kau kira segampang itu? Lagi-lagi hati mengambil alih, dan kaki seakan melenggang dengan sendiri menghampiri. Dekat-mendekat dan sampai disamping mu, gadis penunggu hujan.

Ada bisu lama, sangat lama, bahkan dua menit di sampingnya bagai 2 jam dirasa. Canggung? Oh tentu tidak. Mungkin hanya bingung memulai dari mana. Haruskah mulai dengan bercakap tak perlu? Lagian  tetapi aku tipe orang yang tak suka berbasa-basi. Namun rasanya aku juga tak perlu memulai semua dengan berkata. Bahkan dengan diam disampingnya aku sudah bisa merasakan perasaannya. Memakna raut wajah sendunya, menatap mata sayunya dan menangkap gestur tubuhnya aku sudah bisa menerka isi hati dan kemauannya. Jangan salah sangka aku bukanlah peramal ataupun dukun. Mungkin ini semua memang murni urusan hati, jika kita berada didekat orang yang kita kagumi lalu memperhatikannya dengan teliti pasti kalian semua akan mengerti perasaan ku saat ini.

***

Hujan turun deras, air dari langit itu jatuh teratur membentur tanah, bunyi suara dan bau khas tanah ketika hujan menambah suasana menjadi pulam. Seorang gadis merengut cemas menunggu hujan dengan mendekap tangan niat melawan gigil. Sedang disampingnya ada laki-laki yang diam menyembunyikan maksud niat sapa kenalnya tercekat di tenggorokan. Hujan mengambil alih suasana dengan suara untuk mengisi hening diantara mereka. Bahkan tanah sampai tertawa, bagaimana bisa ada dua orang penunggu hujan yang berdiam-diam tak mengucap kata. Kalian harusnya bisa berkenalan, saling berjabat tangan, bertukar nama masing-masing dan pembicaraan pasti akan mengalir begitu saja. Namun kenapa kalian berdua tidak begitu? Ayolah sudah terlalu banyak tanda tanya diantara hening kalian berdua. Bahkan saya sampai jengkel. Begitukah Bengal si laki-laki untuk menyapa duluan? Padahal  gadis itu sebenarnya dalam hati juga ingin disapa, tapi ya gitu, masak perempuan yang mulai duluan? Dasar gengsi selalu menjadi penghalang nomor satu jika sudah bersangkut-paut dengan hati.

***

Langit masih berhias hitam pekat, hujan belum ada tanda-tanda niat akan berhenti dan kami berdua belum memulai sebuah sapa. Kendati demikian cukup disampingnya aku paham, kau sedang gelisah entah karena apa. Sedari tadi kau sibuk membuka isi handphonemu, ada yang kau tunggu atau mungkin ada yang sedang kau kejar, entahlah kegelisahanmu itu karena apa? Inginku bertanya, namun lagi kutahan itu semua.

Bahasa tubuhmu meminta agar hujan reda, terlihat dengan sejanak kau mendongak ke atas lalu mendongak lagi cemas memohon hujan henti, namun langit tak mengamini pintamu. Kenapa kau gusar? Mungkinkah ada aku disampingmu, orang asing yang berdiri disebelahmu ini apakah menakutimu?  Iya mungkin. Aih ternyata mungkin aku penyebabnya, maaf-maaf aku telat menyadarinya. Baiklah mungkin aku harus pergi dari sampingmu.

Melangkahlah kaki ku keluar diantara deraasnya hujan, ah bodoh! Kenapa aku malah hujan-hujan. Bukankah ini adalah hal yang bodoh dilakukan di hadapanya. Lagi kelewat tanggung, terlanjur basah mau dikata apa lagi, dengan menyesali tindakan diri, aku lari ditengah hujan yang dengan cepat membuat baju hitam ku basah kuyup. Namun dari belakang ada suara depakan kaki, ada yang membututi ku, dan anehnya ikut juga berlari ditengah hujan seperti ku sambil membawa payung warna merah jambu, namun ternyata itu bukan kau.


Memang berbahaya manusia yang berusaha mencari kebenaran, tapi lebih berbahaya lagi bila kita merasa telah mendapatkan kebenaran itu sen...

Memang berbahaya manusia yang berusaha mencari kebenaran, tapi lebih berbahaya lagi bila kita merasa telah mendapatkan kebenaran itu sendiri.

Jika kita Tarik kebelakang cerita Columbus berlayar dari Spanyol ke barat dan menemukan Benua Amerika. Lalu apa yang sebenarnya yang ia cari? Sebelumnya dia meminta kepada Raja Spanyol dua hal atas penemuannya nanti: kehormatan dan kekayaan. Namun semua bingung apa sebenarnya yang  akan dia temukan dan buktikan dalam pelayaranya nanti. Tapi Columbus memang sangat yakin dalam perjalannya akan menemukan hal baru dan kebenaran yang selalu ditangguhkan. Ia mungkin agak terpengaruhi dan hampir percaya setelah membaca tulisan Marco Polo tentang perjalanan menuju ke timur (hindia) dan tentang “ Bumi itu bulat” yang ada dalam kitab agama.

Memang Columbus hidup pada abad ke-15 di Eropa. Ia tidak yakin tentang ajaran yang disponsori kalangan agama waktu itu, bahwa bentuk bumi adalah seperti piring, bukan seperti bola. Walaupun sebenarnya Columbus tidak berniat murtad. Ia justru orang yang selalu inggin membuktikan kebenaran. Mungkin dalam pelayarannya, ia nantinya akan mendapatkan jawaban sesungguhnya bagi seluruh umat manusia dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu Columbus bukan orang yang skeptis, ia orang yang percaya.

Namun ternyata dalam layarnya ke barat. Laut yang memisahkan “ujung barat” laut Negara Spanyol dengan “ujung timur” (saat itu Hindia) ternyata tidak sempit. Benua yang dia temukan rupanya bukan ujung timur, namun daratan baru. Mungkin benar bahwa sejarah memang dipenuhi oleh penemuan-penemuan yang separuhnya benar, atau sepenuhnya salah. “tak bisa dibayangkan Columbus semangat menantang maut dalam membuktikan bahwa bumi itu bulat. Seandainya bukan kesalahan bahwa bumi itu hanya seperti pinggiran piring, mungkin daratan Amerika itu tidak ditemukannya. Dan seandainya tokoh terkemuka saat itu tidak menjadikan bumi datar sebagai kebenaran ilahi.”

Kalimat tanda kutip itu merupakan bagian dari sebuah pendapat. Bahwa kesalahan, bukannya “kebenaran” yang menjadi sendi perjalanan hidup kita.

Ahli pikir ilmu pengetahuan, Kalr R Popper berkata “aku akan memperkenalkan pengetahuanku yang secuil ini agar yang lebih baik dari aku dapat mengkaji kebenaran, dan dengan demikian membuktikan serta mencari kesalahanku. Dan dalam hal ini aku akan berbahagia bahwa aku toh masih tetap salah satu alat yeng memungkinkan kebenaran muncul.”

Kalr R Popper menggaris bawahi lagi bahwa manusia itu bersifat salah. Karena manusia paling cuman  mampu menampilkan dugaan-dugaan. Terhadap suatu perkara berdasarkan keterbatasan pengetahuannya saja. Dugaan itu hanyalah sebuah dugaan bukanlah kebenaran ataupun kepastian. “di atas dugaan-dugaan inilah hidup kita berjalan, di atas kesalahan dan kekeliruannya lah hidup kita berubah.”

Maka, dugaan ini tidak akan berarti kalau disimpulkan dengan kepastian ataupun kebenaran. Artinya dugaan sengaja dibelokan agar tidak langsung disimpulkan menjadi sebuah hal yang salah. Dengan demikian pernyataan semakin baik dan berarti kalau semakin menyediakan lebih banyak kesempatan untuk disalahkan, untuk ditolak.

Dalam sophisme seseorang mengatakan bahwa “Tidak ada kebenaran.” Padahal dalam pernyataan “Kebenaran” mungkin seperti ini: kita hidup bukan untuk merumuskan suatu pernyataan yang salah. Manusia hakikatnya selalu mencari kebenaran. Hanya ia harus selalu bersedia dengan pengakuan, bahwa yang ia capai tak akan pernah bulat.

Mungkin juga seperti kata-kata seseorang yang bijak: ”memang berbahaya manusia berusaha mencari kebenaran, tapi lebih berbahaya lagi bila kita merasa telah mendapatkan kebenaran itu sendiri.” Karena kebenaran itu dalah hal yang relatif.

Maka begitu malangnya manusia yang ingin agar ucapan, dugaan  dan pernyataannya diterima sebagai kebenaran dan kepastian yang tak tergugat. Toh Columbus yang berencana ke hindia, ternyata malah menemukan Amerika.








Pukul tiga sore rombongan sirkus datang ke salah satu kota di Negara Italia, sudah pasti semua warga kota menyambutnya dengan sorakan g...


Pukul tiga sore rombongan sirkus datang ke salah satu kota di Negara Italia, sudah pasti semua warga kota menyambutnya dengan sorakan gembira. Manusia besi, atraksi berjalan diatas tali, sulap, sepeda roda satu dan binatang-binatang buas yang terlatih. Namun barang tentu yang paling ditunggu oleh semua orang adalah aksi lucu si badut bernama Pagliacci, yang selalu membawa humor dan candaan yang dibutuhkan oleh semua orang yang lelah dengan tuntutan kehidupan pada masa era industri.

Pagliacci selalu sukses membuat semua orang tertawa disetiap aksi panggungnya. Dengan rupa muka penuh sapuan bedak, selai lebar untuk membentuk mulut yang terbuka. Mata lebar dan berbalik dibentuk lengkungan alis dan masing-masing pipi dibuat merah sehingga memperlihatkan kesehatan yang terlihat berlebihan. Dia rela akting jatuh bangun, berpantomim dengan mimik muka yang dijelek-jelekan, bahkan jika perlu dia sedia berimprovisasi dengan tingkah dan ucapan yang membuat dirinya malu sekalipun. Apapun akan dilakukannya demi tawa mereka, seakan memberi pesan bahwa selain hidup yang kalian jalani, ada hidup orang lain yang perlu kalian tertawakan.

Tenda berbentuk kerucut sudah didirikan, lampu sorot sudah menyala menerawang ke penjuru sela dan segala properti pendukung pertunjukan sudah ditata di keadaan seperti biasanya. Namun ini masih jam tiga, sedangkan pertujukan baru akan dimulai satu jam sebelum matahari tenggalam dan seluruh penjuru kota sudah riuh membicarakan tentang sirkus dan si badut Pagliacci.

Disebuah bar terduduk seorang pria setengah baya dengan botol alkohol di tangannya, terhitung itu sudah botol kelima. pandangannya mungkin sudah kabur dan kesadaranya mungkin sudah pada pangkalnya. Dia akan meminta botol keenam namun si bartender tidak memberikannya. “Aku tidak akan memberikan botol untumu lagi!” serunya kepada si pria tersebut. “Jika kau memang banyak pikiran dan memerlukan bantuan pergilah ke dokter di ujung gang sana, dia  pasti akan membantu permasalahanmu.” Tambah si bartender. Memang pria itu sedang depresi, bahkan semasa hidupnya dilaluinya dengan angan yang tak pernah tersampaikan dan impian yang juga tidak terkabulkan. Bangkitlah si pria setengah baya itu dari duduknya dengan sadar yang dipaksakan dia melangkah tegap ke rumah dokter yang diharapkannya dapat membantu keadaan depresinya.

Sesampainya di dalam rumah dan bertemu sang dokter, pria itu pun mengadu bahwa ia sedang sangat depresi. Hidup dirasanya sangat kejam mengucilkanya, begitu tidak adil juga dirasa semesta membagi nasib kepadanya. Pria itu berkata lagi bahwa “dunia seakan tidak pernah berpihak kepadaku, apa yang aku ingin dan aku impikan tidak pernah sampai pada diriku. Aku merasa semua orang bisa tertawa dengan semua apa yang mereka capai, sedangkan aku harus menangisi apa saja yang gagal aku capai” keluh pria itu sambil menangis. Dokter itu diam sesaat sambil memikirkan obat apa yang cocok bagi si pria malang tersebut. Lalu si dokter ingat bahwa akan pertunjukan Sirkus yang akan diadakan di kota nanti sore. Sang dokter menatap si pria setengah baya dan berkata bahwa obat untuk penyakitnya sederhana saja. "Nanti malam, ada  sirkus dengan seorang badut yang akan beraksi di tengah kota.
Namanya Pagliacci. Saksikanlah pertunjukannya, pasti kau lebih bahagia, dan akan membuatmu sedikit lebih baik" ujar dokter.

Namun mendengar usulan tersebut, sang pria bukannya lega. Yang bersangkutan malah tertunduk, menelungkupkan tangannya ke wajah, dan malah menangis sejadi-jadinya. Dokterpun tak habis pikir dengan apa yang salah dengan sarannya barusan. Lalu dengan suara sesenggukan pria itu menjawab dengan air mata deras menetes. "Tapi Dok, Saya lah Pagliacci"

Itulah sepenggal adegan opera berjudul pagliacci yang polpuler di Italia pada tahun 1892. Sebetulnya pagliacci opera dengan konflik percintaan dengan diakhir cerita terdapat pembunuhan. Ruggero Leoncavallo membuat cerita opera ini dengan Pagliacci adalah sebuah cerita keadaan orang-orang masa itu. Sebenarnya jika dilihat pada masa sekarang, banyak orang-orang yang memerankan peran sebagai Pagliacci. Mereka itu nyata diantara kalian, tersenyum dan tertawa bersama-sama kalian namun menangis nanar dibalik panggung sandiwaranya.

Robin Williams aktor kawakan ini sepanjang karirnya diperfilman Holywood sudah banyak memerankan peran yang sama seperti watak Pagliacci. Keahlian Williams berimprovisasi dalam melucu seakan keluar secara natural dari dirinya.

Ia seperti tanpa upaya berganti mimik, menciptakan situasi-situasi konyol, dan merepetkan dialog-dialog kocak dalam rerupa aksen. Bakat peran tersebut tak hanya mengundang tawa. Tak jarang juga air mata penonton ia buat menetes lewat aksi peran dalam film-filmnya, seperti saat memerankan anak kecil memainkan permainan papan yang menjadi nyata dalam “Jumanji” (1995). Mengisi suara sebagai jin biru dalam film animasi disney ”Aladdin” (1992) Sukar melupakan kesedihan yang ia terjemahkan dengan begitu baik saat membaca bait-bait puisi Pablo Neruda untuk kekasih yang telah meninggal, kala memerankan dokter pendobrak dalam "Patch Adams" (1998). Atau cara ia menatap para murid yang menolak pemecatannya saat berperan sebagai guru revolusioner dalam "Dead Poets Society" (1989). 

Namun lain di depan, lain juga dibelakang layar kaca. Williams ternyata seorang pribadi tak tenang dalam hidupnya. Ia sudah lama mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol dan koakain. bahkan kebiasaannya tersebut ia lakukan sejak akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Kebiasaan buruknya sempat berhenti saat kelahiran anak pertamanya pada tahun 1983, namun kebiasaannya minumnya muncul kembali pada tahun 2003.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Inggris the Guardian pada 2010, Williams menceritakan banyak kesedihan. Menurutnya ia kerap kali merasa kesepian dan ketakutan. Dan ia kerap mengobati perasaan takutnya tersebut dengan banyak meminum alkohol.

Wiliams juga mengenang beban berat bekerja sebagai aktor Hollywood. Ia ingat pernah terlibat dalam pembuatan delapan film dalam dua tahun. Menurutnya, ada sejenis kekhawatiran dalam diri para penampil bahwa jika mereka berhenti tampil, mereka terlupa. Williams menderita depresi sepanjang hidupnya, dan juga berjuang mengatasi kecanduan obat-obatan terlarang dan alkohol. Namun tanggal 11 Agustus 2014, ia ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Paradise CayCalifornia.

Ia menghibur masyarakat sebagai seorang komedian, namun harus mengakhiri hidupnya karena depresi. Sangat pilu jika mengetahui bahwa orang yang menyediakan tawa untuk orang lain, ternyata ia tidak bisa menemukan tawa untuk dirinya sendiri. 


"Bagi dirimu yang mengalami depresi, temuilah orang-orang yang kau cintai. Bunuh diri merupakan solusi permanen, untuk masalah yang sementara" - Robin Williams



Badanmu yang rapuh kau paksakan tegar didepanku, di sikumu kau tompang kayu sebagai penyeimbang tegak berdirimu. Cafe yang tak begitu r...


Badanmu yang rapuh kau paksakan tegar didepanku, di sikumu kau tompang kayu sebagai penyeimbang tegak berdirimu. Cafe yang tak begitu ramai dan malam yang panjang menjadi media bagimu bercerita kepadaku. Lampu pijar diatas meja menyala muram seperti tatapan ekspresimu yang duka entah karena apa. kamu masih saja malu setiap akan membuka percakapan tapi ditenggorokanmu nyatanya ingin saja mengeluarkan kata-kata, namun mulut kau tutup rapat sehingga kata-kata tertahan dan kegelisahanmu belum tersampaikan.

Matamu yang sayu, kau paksakan terbuka di hadapan kata, malam ini matamu menjelma sebagai kutukan, berburu arti yang terbang bebas di udara, aku sedikit gusar melihat tatapan itu, air mata dan peluh terlihat sama. Suka duka tak ada beda. Inisiatif membuka percakapan aku lakuakan, dan nyatanya kau respon obrolanku dengan riang.  Akhirnya kau bercerita panjang dan lebar, tanpa peduli titik dan koma. Kata-kata mengalir bagai sungai mencari muara. hanya cerita sepi menjadi puisi. Dan lemon tea yang kau pesan akhirnya menjadi berguna sebagai pelapas dahaga cerita panjangmu.

***

Entah aku juga bingung kepada mereka yang kuat menahan cerita ketika masalah melanda. Bagaimana mereka tampak bisa biasa saja, bagaimana juga cara mereka menyembunyikan masalah mereka, apakah mereka diam-diam memiliki kantong yang dikhususkan menyembunyikan masalah lantas mereka masukan semua masalah mereka kedalam kantong itu lalu disembunyikan dibalik saku celana. Atau mereka mempunyai otak ganda yang mereka sembunyikan di dalam kulkas, otak satu dipakai sebagai penampung masalah dan kesedihan. Sedangkan otak yang lain khusus sebagai tempat kebahagiaan yang dipakai sebagai alibi mereka jika keluar dari rumah, sehingga leluasa memasang wajah tawa lepas dari segala masalah. Padahal jika pulang kembali kerumah mereka akan kembali menangis dan meratapi diri dan berasumsi mengapa hidup bisa semenderita begini.

Padahal hanya butuh cerita, sungguh tinggal membuka mulut dan berkata. Tapi nyatanya ego dan gengsi menjadi satu-satunya alasan mengapa cerita mengumpal dan beranak pinak disela-sela otak dan perasaan. Sehingga tidak sedikit juga orang mati bunuh diri karena tidak mampu bercerita dan mengungkapkan perasaan didalam isi kepala

Namun ternyata, bercerita tidak sesederhana itu.

Bercerita bahkan lebih rumit dari rumus-rumus kalkulus, di soal-soal ulangan harian yang mendadak dirajai oleh beberapa kepala yang cemas. Pun lebih rumit rumit dari proses metamorfosis seekor ulat sebelum menejadi kupu-kupu, yang kemudian hanya diberi waktu tak lebih dari seminggu untuk dipuji kecantikannya.

Sejatinya akhirnya semua orang ingin bercerita, cerita sudah menjadi bahan pokok selain nasi dan kouta internet. Bagaimana jika orang disekitarmu itu butuh cerita, dan kau sebenarnya tahu jika dia ingin bercerita. Namun kamu malah diam saja, padahal mengajaknya berbicara sama saja akan meringankan hidupnya. Dia hanya butuh pendengar, bukan penolong. Walaupun dengan mendengarnya secara tidak langsung kamu juga menolongnya. Tapi jika dia butuh bantuan atas masalahnya, menolongpun juga kenapa tidak? Ah meracau seperti ini memang kadang tidak guna.

***

Akhirnya kamu menutup ceritamu, raut mimik muka lega kau pasang pengganti wajah layumu. Ceritamu usai, bebanmu telah ringan sekarang, dan senyum simpul terpampang ketika aku mencoba merayumu. Mudah-mudahan kamu tetap ceria seperti itu. Sehingga nanti giliranku cerita tentang bagaimana masalahku, masalah yang kau ciptakan setelah senyummu itu memporak-porandakan isi hatiku.

Hai kalian para mahasiswa cupu, merasa nggak kalo sebenarnya kalian itu tertinggal, kuno, kusam, kumal, kurang gaul dan enggak keren git...


Hai kalian para mahasiswa cupu, merasa nggak kalo sebenarnya kalian itu tertinggal, kuno, kusam, kumal, kurang gaul dan enggak keren gitu di kampus UTUM sini? Lihat kampus kalian saja terletak dipinggir pulau, ditengah-tengah sawah, dikelilingi hama tomcat dan diteror oleh begal montor. Astaga begitu kasihan sekali nasib kalian, niat mau belajar dengan bener-bener malah dapat masalah lingkungan yang ngga bener, mendengar realita seperti itu terkadang saya merasa sedih.

Hahaha, bercanda kelues. Akan tetapi ingat rasanya tentang mahasiswa-mahasiswa tempo doeloe,  yang selalu turun kejalan berteriak-teriak minta keadailan dan selalu meneror para birokrat negara dengan menduduki gedung wakil rakyat. Doeloe mahasiswa selalu tekenal dengan ketegasan dan kritisnya saat orasi dijalan. Tapi dijaman tuyul melenium kini mahasiswa berpikiran bahwa aksi seperti turun kejalan adalah aksi yang tidak Hits lagi dilakukan.  Namanya juga mahasiswa masa kini selain jago mencuri hati para dosen dan menjilat ludah sendiri, Mahasiswa sekarang lebih memilih mengaploud foto dengan latar belakang gedung perpisahan (lawan kata) di ig dengan menandai akun jasa reaploud hits dengan tagar-tagar yang nauzubillah banget contoh: #mahasiswautumhits, #mahasiswautumkekinian, #mahasiswautumcaem, #mahasiswautumkerenkayakyongleki, #mahasiswautumsebutkanlimajenisikan  dan lain-lain deh, sampai sampai lebih banyak tagarnya ketimbang likenya hihihhi. Dengan begitulah mahasiswa kampus UTUM merasa eksis dengan berharap foto mereka direaploud oleh akun hits tersebut. Walaupun terkadang cuman yang berparas cantik dan berwajah ganteng aja yang diposting ulang. sedangkan yang tidak memenuhi kadar setandarisasi foto hits mahasiswa kampus UTUM tersebut ya tag kalian akan dihadiahi like doang.

Sebenarnya ada banyak cara untuk terkenal di kampus UTUM ini tanpa harus mengaploud foto hits dan sebenarnya untuk terkenal di kampus inipun sangat amatlah mudah. Berikut saya punya sedikit tips yang mudah-mudahan berfaedah dan dapat membantu kalian para mahasiwa UTUM yang fakir hits. Berikut kiatnya mohon dipahami:

1.GONDRONG


Dengan berambut gondrong kalian para laki-laki akan menjadi bahan pembicaraan bagi mahasiswa-mahasiswa cewek gemes di kampus ini, karena image orang gondrong di UTUM sini sangatlah keren, bahkan sampai ada komunitasnya juga, pernah saya coba kepo-kepo akun media sosial mereka dan entah mengapa saya jadi merinding. Orang-orangnya sangar-sangar semua: ada yang gondrong sepinggul kayak kuntilanak penghuni GSC, ada yang gondrongnya mengembang keriting kayak sarang tawon madu, ada yang gondrongnya nanggung seperti andika kangen band dan ada juga yang rambutnya gondrong, wajahnya sangar, berkumis, keker, pokoknya punya kesan garang deh namun sebenarnya dia penyanyang dan humanis banget, ada? Ada kok orang saya kenal dia. Jadi dengan berambut gondrong disini kalian akan mendapat nilai plus dari para gadis-gadis unyu. Mereka akan berkata: “Ih mas itu lo gondrong, bikin cepet-cepet mandi besar saja” ada juga yang gini “aku suka lo sama mas gondrong yang itu, soalnya kesanya tegas dan penyayang banget, lihat! rambut bersihnya aja diperhatiin apa lagi akuu” dan ada lagi “aduhh mas itu rambutnya aja panjang apa lagi anunya” ~maksutnya umurnya mas-mas yang gondrong itu lo wah wah.

2. PENAMPILAN REBEL


Saat kuliah pakailah celana jean yang sobek-sobek, semakin lebar sobeknya semakin hits anda. Ya gitulah selogan ngga guna tentang penampilan rebel. Tapi emang bener dengan berpenampilan rebel, kalian akan menjadi pusat perhatian di kampus ini. Seperti apa sih berpenampilan rebel itu? Ya berpenampilan yang liar gitu lo. Seperti contoh saat kuliah pake celana jeans sobek-sobek dari paha hingga mata kaki, pake kaos bergambar tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Soeharto, Semar, Captain america atau Shigeo takeda  biar dikira aktifis kampus gitu. Setelah itu kalian ngga usah mandi saat kuliah, bau badan menjadi aset yang harus dijaga oleh mahasiswa rebel. Dan juga karena semakin tebal blonggot atau daki maka semakin rebel kalian. Dan otomatis kalian akan semakin hits dilingkuangan kampus UTUM ini. Apa lagi kalian akan mudah sekali terkenal di mata dosen dengan melakukan hal ini. Mudahnya terkenal.

3.       3.KUTU BUKU JALAN KAKI

Emang contoh yang ini sangat jarang ada di kampus UTUM, tapi mungkin kalian bisa berinisiatif melakukannya. Yaitu dengan membawa buku ditangan minimal empat dan di dalam tas minimal lima, terserah buku apa saja, buku pemikiran, buku komunis, buku agama, buku porno atau apalah terserah pokoknya buku. Usahakan yang tebel biar dilihat orang kesannya pinter gitu, kemana-mana bawa buku. Dengan begitu kesan orang cerdas, kritis, idealis dan sipilis menjadi satu kesatuan yang terbrandid otomatis pada diri kalian. Kalian melakukan tips yang ini harus dengan jalan kaki, kenapa? Ya biar kalian dianggap sok idealis gitu. Ngga mau naik montor karena bermerk dan dibuat dari negara Jepun bukan buatan negeri sendiri, tapi punya hp bermerk samsus. Dengan begitu kalian pasti akan jadi bahan perbincangan dikalangan pemuda dan pemudi kampus UTUM. Karena spesies seperti ini sangatlah langka disini. Bayangin saja dengan cukup membawa buku mondar-manidir pos satpam – gedung rektorat saja bisa terkenal. Kalo ngga percaya coba saja.

4.       4.SELALU BERTANYA DI DALAM KELAS

Pokoknya jika dosen membuka sesi pertanyaan di dalam kelas, langsung saja acungkan tangan sambil senyum unjuk gigi, pede aja. Tanya apa saja, persetan dengan bibit, bobot dan bebet pertanyaan kalian. Yang penting bertanya. Mau setema atau tidak dengan matkul yang diajarkan yang penting acungkan dua jari, eh jangan nanti dikira kader pak ahik, acungkan satu jari saja, eh jangan juga kan yang nomor satu sudah kalah, bagaiman kalo tiga jari? Emm kayaknya juga jangan deh. Kenapa? Ntar ngomong sedikit dikira money politic. Pokok tanya saja pada dosen kalian. Terserah tanya apa aja. Semakin ribet dan belibet kosa kata tanya kalian maka semakin hits. Misalnya pakailah kosa kata yang mungkin cuman dimengerti dosenmu saja seperti contoh jika kalian anak teknik informatika atau sistem informasi, kombinasikan pertanyaan komputer kalian dengan filsafat seperti contoh “Pak bagaimana jika sistem operasi pada komputer karlmarc bisa tidak dapat diretas? Apakah karlmarc mefirewall komputernya dengan ideologi materialismenya pak? Dan apa bila iya bagaimana caranya pak?” dengan begitu dosen kalian akan malu-malu tai karena bingung dan merasa tidak bisa menjawab pertanyaan cerdas dari kalian. Dengan begitu beliau akan menjawab pertanyaan kalian sekenanya atau jika kalian beruntung jam kuliah akan diselesaikan saat itu juga, benar-benar dosen yang bermartabat.


Begitulah tips yang mudah-mudahan berguna bagi kalian yang ingin terkenal di kampus ini. Sebenarnya hits tak melulu mengunggah foto keren di medsos. Dengan mencoba tips saya diatas, pasti kalian akan terkenal bak aktivis atau badan eksekutif. Kalo ngga percaya coba saja, manjur kok mamah tau sendiri. Jika masih saja ingin terkenal bergurulah kalian ke warung-warung kopi terdekat kalian akan menemukan banyaknya kakak-kakak aktivis bercerita cuma-cuma bagaimana caranya hits dikampus yang kecil namun dengan masalah sosial yang besar ini. Semoga pak Dosen tidak menyuruh kami menyebutkan lima nama-nama ikan dilaut.

Terbungkam disudut kamar, tersungkur di sebuah keadaan yang begitu keparat dirasakan. Dia terlena dengan suasana yang disuguhkan. Bah...



Terbungkam disudut kamar, tersungkur di sebuah keadaan yang begitu keparat dirasakan. Dia terlena dengan suasana yang disuguhkan. Bahkan semesta nampak jumawa dengan prilaku yang masih dibatas wajarnya. Padahal malam masih riang namun di tengah lelap suatu hal tak mengenakan datang tanpa meminta permisi. Sebuah ajakan untuk merasakan ironi hidup di tengah-tengah pulau asin. Hati terasa gentar merasakan diri, perasaan tak begitu kokoh mendongak kelangit. Bersujud rasanya sulit dilakukan bahkan menatap dan berkaca pada diri sendiri seakan enggan . Pernah suatu hari saya terpaksa mendengar keluhan dari teman  tetangga kamar.

“ Kenapa hidup disini sangat mengesalkan, masalah silir berganti datang. Seakan semua pedatang yang ada disini dikutuk untuk menjadi sengsara.” Ujarnnya dengan gerutu.

“apa maksutmu? Aku tidak begitu mengerti?” Tanyaku beralasan.

“Aku baru saja setengah tahun mencari ilmu disini. Tapi lihat apa yang dilakukan takdir denganku, UKT yang mahal, ruang kelas yang tak layaknya seperti kandang, fasilitas dan infrastruktur yang tak pernah terealisasi. Itu baru ditempatku menimba ilmu belum dengan kehidupan sewa tinggalku, kamar sempit dengan udara panas di siang dan malamnya, aku heran bagaimana suhu bisa sama panasnya di terang dan gelap. Aku menjadi ikan panggang di siang namun dimalam aku berubah menjadi roti bakar. Ada lagi jika aku mencoba membersihkan diri untuk bertemu pangeranku, ketika air ku kumurkan ke mulutku rasa garam terasa. Aku mencoba menahanya, tetapi pada kesempatan ketiga aku selalu menahan muntah untuk berjubal keluar dari kerongkongan. Aku sering kali bertanya padaNYA setiap akhir sujudku, apakah hidup sesengsara ini disini. Bagaimana dengan nasib motorku yang hilang, aku sampai sekarang masih curiga pak kos tua itu bersengkongkol dengan malingnya. Kau masih inggatkan ketika dia ditanya akan tanggung jawabnya menjaga keamanan saat setelah kejadian itu, dia tidak mau tanggung jawab, dia tidak mau tahu, seakan motor hilang sudah ikhlas saja, jika begitu kenapa dia harus tidur di ruang tamu depan? katanya sih untuk menjaga montor yang tidak kebagian tempat di garasi samping, tapi toh jika dia berjaga motor tetap saja hilang, bahkan jika dia disitu yang dilakukannya hanya tidur lelap, seperti orang mati. Belum lagi sekarang kemalangan kembali menimpaku dompet, uang, stnk, sim dan semua kartu  identitas hilang tak tau kemana. SIALl!!” Gerutu panjangnya padaku.

Aku begitu ingat kemalangan silih berganti menemaninya, seakan kesialan adalah teman yang paling dekat daripada teman-teman kuliahnya. Entah kenapa semuanya sangatlah cepat terjadi. Aku juga akan mengerutu seperti itu jika kesialan yang sama menimpaku. Sebenarnya hidup disini nyaman-nyaman saja. Jika saja bajingan seperti begal tidak ada, keparat seperti maling montor juga lenyap dan juga anjing seperti preman-preman itu juga sirna. Kami disini mau mencari ilmu dengan tenang-tenang saja, dengan nyaman tanpa dibuat takut dengan semua kriminalitas yang ada. Lihat saja berita tentang kriminalitas masih saja menjadi ramaian pesan BC di setiap media sosial.

Masih saja dipojokan kamar itu, kepulan asap masih saja memenuhi polusi. Bau keringat dan tembakau bakar menyengat menyerang setiap sudut ruangan, keroncongan terasa biasa saja namun kepala meminta semua masalah hilang dari dalam otaknya. Diam masih dilakukan tapi batin goyah menahan derita yang ada. Masih saja berharap ada kuping yang rela mendengar semua keluh kesahnya. Namun tak seorangpun manusia mengerti bagaimana orang yang selalu tertawa itu mempunyai luka menganga yang teriak-teriak parau meminta disembuhkan. Ah aku rasa dia cukup pandai memakai topeng kebahagiannya dan bukan tidak mau peduli tapi setiap detiknya semua tetangganya tau dia minta ditolong.

Melamun tetap saja menjadi pelampiasan. Dada terasa senggal meminta asap rokok untuk keluar, matanya merah menahan kantuk dan amarah, kantung matanya bergelayutan sebesar kantung mata pak SBY, aku masih ingat ketika dia masih bisa tertawa kemarin, saat semuanya begitu berwarna ditengah kebahagianya namun ironi dengan tega merenggut semua yang ada pada dirinya. Seakan semua canda tawa kemarin seperti pesugihan dengan tumbal kemalangan yang dia rasakan sekarang.


Mencoba mencerna semua kata-kata yang beredar liar di udara, mendengar suara manusia yang bertebaran merusak rona hari yang ada. Semua ucapan maaf terasa percuma jika diminta. Akankah keresahan menjadi titik buta orang terhadap masalah sosial yang nyata. Melunakan lidah, melancangkan perbuatan dan mencari pelampiasan meledak-ledak. Aku butuh dia, orang yang mengerti semua masalah, orang yang rela mendengar keluh-kesah, orang yang yang selalu ada jika diminta. Tak usah berlaga kuat dihadapanku, tak usah sok tegar didepan mataku, tak usah kau berpura-pura tersenyum dimukaku. Silahkan kau berpura-pura tersenyum jika didepan teman-temanmu, pada semua teman chatmu atau pada semua yang ada disekelilingmu. Namun jika denganku kau berhak menangis seperti anak kecil didepanku, kau bisa bercerita semua masalah denganku, aku bisa menjadi pendengar yang setia dan baik seperti inginmu. Jika seumpama kau berkenan maka dengan semua itu aku rela akan.