Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Pagi menjelang, Malioboro kian lengang ditinggal penjual yang kocar-kacir dikejar keamanan. Pengunjung nampak beberapa berlalu-lalang,...


Pagi menjelang, Malioboro kian lengang ditinggal penjual yang kocar-kacir dikejar keamanan.
Pengunjung nampak beberapa berlalu-lalang, befoto dan bermesum dabalik bangku taman.
Para gelandangan mencari tempat rehat untuk raga yang lelah digempur kejamnya hidup yang terus berjalan.

Namun di pojok sana, ada gang yang menjelang pagi malah semakin ramai.
Gang sempit dengan kotak amal disetiap ujungnya, dimana orang masuk mencari suguhan mulus anggota badan.
Tempat dimana hawa nafsu terpenuhi dengan lembaran uang puluhan.
Tempat dimana senggama menjadi sebuah tujuan.
Tempat dimana desehan tak kalah nyaring dari umpatan kenikmatan.
Plesiran berkedok penginapan.

Terlihat rumah minimalis banyak kamar dan lampu sekunder menyala-nyala muram.
Dengan wanita berbaju minim menunggu ajakan di teras depan.
Muda tua berbaris menyilangkan kaki dengan wangi parfum menggoda ketegaran iman.
Senyum menggoda dan lirikan mata mengajak kencan satu malam.

Mereka tak peduli dengan tertanggalnya harga diri.
Mereka tak peduli dengan malunya diri sendiri.
Mereka hanya butuh uang agar esok masih bisa makan nasi.
Yang mereka peduli hanya satu, membuat pelanggan terpuaskan dengan terlampiaskannya birahi.
Sehingga lain waktu mereka akan dicari dan dipakai lagi.


Dan mereka memang ikut andil dalam mewujudkan Jogja sebagai kota menyenangkan, bagi mereka yang lupa akan hidup sesudah kematian.

Bagaimana jika dia kembali?. bagaimana keputusanmu jika dia kembali? apakah kamu menyambutnya dengan senyuman?, atau dengan kebencian...

Bagaimana jika dia kembali?.
bagaimana keputusanmu jika dia kembali?
apakah kamu menyambutnya dengan senyuman?, atau dengan kebencian?
senyuman karena seseorang yang masih kamu cintai akhirnya kembali padamu.
atau kebencian karena seseorang yang pernah menyakitimu dan kamu anggap sudah lama mati ternyata masih berani menampakan diri dihadapanmu.
dia tidak tahu apa akibat kepergianya saat itu terhadapmu.
kamu yang selalu menagisinya disetiap waktu, bahkan ibadah rutinmu kamu tinggalkan demi menangisi dia yang tidak lagi memikirkanmu.
kamu yang enggan makan dan lebih memilih selalu menggegam handphonemu dengan alasan.
“Bagaimana jika aku nanti sedang makan dan tanpa sepengetahuanku dia menelfonku” jawabmu meninggi sambil kembali meneteskan air matamu.
padahal kamu sendiri tahu bahwa dia tidak mungkin menelfonmu, jangankan menelfon mengingatmu mungkin dia tidak.
kamu yang mengigau nanar menyebut namanya ditengah tengah mimpi tidur larutmu, bahkan dia tidak tahu bahwa setelah ditinggalkanya kamu belum pernah tidur selarut ini sebelumnya, dan padahal ditempatnya sana dia sudah tidur nyeyak dan ditidurnya bukan kamu lagi yang ada dimimpinya namun sosok baru pengganti kamu dihatinya.
kamu masih saja menceritakan indah namanya di hadapan teman temanmu, padahal kamu sendiri tahu dia tidak membanggakan namamu lagi disaat berkumpul dengan teman temannya.
bahkan dia tidak tahu setelah kepergianya hidupmu tidak pernah sehancur ini,
dia tidak tahu, bahkan dia tidak mau lagi tahu keadaanmu.
namun terlepas dari semua itu, bagaimana jika dia kembali?
bagaimana jika dia datang lagi?, dia datang menyapa seakan semua biasa biasa saja, dia datang ramah seakan dia tidak bersalah sama sekali setelah meninggalkanmu kemarin lusa, dia datang dengan nada manja seakan kamu harus menerima dan membiarkan dia masuk lagi ke hatimu yang sudah porak poranda, dia kembali merayu,membujuk dan menjajikan kebahagian dengannya lagi kepadamu.
lantas bagaimana denganmu? 
masih mau menerimanya?, atau menolaknya?
ah itu semua terserahmu, jawaban semua itu ada di kamu, karena aku tahu sejahat jahatnya kamu, pasti tidak tega dengan dia yang berlutut memohon diterima lagi olehmu dan akupun tau perasaanmu padanya pasti tetap sama seperti pertama kali kalian bertatap mata, kamu masih suka.
jadi gimana?
jadi jika dia kembali kamu akan?

SEJENAK Sejenak aku menarik diriku. sejenak aku memperingatkan diriku sendiri. tentang dengan...



















SEJENAK


Sejenak aku menarik diriku.
sejenak aku memperingatkan diriku sendiri.
tentang dengan siapa aku sedang berlari saat ini.
tentang dengan siapa aku bersama akhir akhir ini.
tentang sebuah lengkung senyum yang selalu membuat hati ini takjub lagi.

bukan karena aku takut mencintaimu, bukan.
bukan karena aku menyerah untuk memperjuangkanmu, bukan
bukan karena aku takut nantinya kau meninggalkanku, bukan
jika itu tentangmu, akan kuambil semua resiko yang menghalangi.

namun sekarang aku harus sadar diri.
untuk saat ini aku memang harus  berhenti.

berhenti memperjuangkanmu
berhenti melihat senyumu.
berhenti sejenak mencintaimu.

maafkan untuk sejenakku ini…