Tampilkan postingan dengan label catatanharian. Tampilkan semua postingan

“Kota ini, ketika saya ingin menaklukannya, saat itulah saya semakin tenggelam” Sore bulan puasa, saya bertemu kawan lama di sebuah pusa...



“Kota ini, ketika saya ingin menaklukannya, saat itulah saya semakin tenggelam”


Sore bulan puasa, saya bertemu kawan lama di sebuah pusat perbelanjaan di daerah pinggiran Ibu Kota. Kebetulan waktu sudah memasuki berbuka, kami makan di sebuah outlet makanan franchise di sudut bangunan. Saya tahu betul dia bukan tipe orang yang menyukai tempat makan seperti ini. Akan tetapi demi menyambut kawan jauhnya dia singkirkan idealismenya barang sesaat.


“Kamu tahu, saya paling tidak pernah suka makan di tempat seperti ini, tempat makan ini sangat kapital, makanan dijual mahal dan berbanding terbalik dengan rasanya,” gerutunya yang sudah pasti bisa saya tebak. “Bahkan saya memesan makanan inipun hanya melihat dari nama kerennya saja tanpa tahu rupanya seperti apa, tapi demi kawan jauh sekali-kali tidak mengapa lah,” imbuhnya dengan sedikit senyum.


Kami makan bersama, bertukar kabar, mengingat kenakalan-kenakalan masa lalu, dan mengasihani nasib masing-masing. Teman saya ini hidup, bekerja, sekaligus memaki kota ini. “Jakarta” jauh dari bayangan masa kecilnya, imajinasinya ketika bekerja di Ibu Kota seperti gambaran orang berdasi yang sering dia lihat di sinetron televisi. Sambil melonggarkan kancing bajunya, lalu menyalakan sebatang rokok yang ia hisap dalam-dalam. Impian besarnya saat muda dulu yang sering dia ceritakan kini beralih ke hidup kecil yang serealistis mungkin dapat dia jalani. Saya yang mendengarnya mencoba mebangkitkan sisa-sisa api dihatinya, tapi jawabannya sungguh diluar dugaan saya, “Orang tua saya sudah tersenyum melihat saya saat ini, itu membuat saya merasa cukup,”  jawaban menohok ini diucapkan sangat lirih, dan saya mengangguk untuk yang satu ini.


Cerita lelahnya berlanjut ke hari-hari kerjanya yang sangat berat, kepala divisinya yang rakus, dan kesepianya yang lamat-lamat ikut andil memperpendek umur seperti rokok yang kembali ia sulut. Namun pertanyaan saya, bagaimana dia merasa sendiri di kota yang tidak pernah tidur ini. Bagaimanapun dia sekarang adalah bagian dari Jakarta, yang dengan kalut bangun pagi untuk pergi ke macet satu ke macet lain setiap harinya. Kenapa dia tidak membanggakan bagaimana indahnya taman kota, megahnya Gedung-gedung pecakar langit itu, betapa gagahnya monumen nasional, atau pedagang kaki lima yang lebih banyak dari jumlah pohon yang ada.


Jakarta membuatnya kehilangan gairah hidup yang dapat dia jalani, atau mungkin hampir sebagian penghuninya. Bagaimana ironi kesenjangan kehidupan entah itu di Kampung Melayu, Mester, Menteng, atau Bintaro. Namun potret seperti sudah lumrah ada di kota ini, ketimpangan adalah bahasa baku dan huruf tebal jika sedikit saja meluangkan waktu berputar-putar. Kota ini gemerlap, bising, dan sesak. Tapi kesepian adalah pernyataan membingungkan yang keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa?


“Disini tidak ada kawan, bukan berarti saya asosial, saya sudah membuka diri untuk semua orang yang akan berkawan, namun di Jakarta kamu tidak pernah tahu kawan mana yang akan membunuhmu di kemudian hari” Kecamnya sambal mendengus kesal, baginya berusaha peduli dengan seseorang disini sama saja harus ikut masuk kedalam kompleksnya permasalahan orang tersebut, “Pernah saya coba peduli dengan seseorang kawan yang ketergantungan obat-obatan, akan tetapi sulit menyadarkannya, ternyata selain obat, hutang juga jadi masalahnya, saya jadi bingung harus bagaimana untuk membuka diri,” tambahnya kali ini suaranya lirih. Saya yang mendengarnya ikut terhanyut. Metropolitan tidak hanya bisa merubah nasib, namun juga merubah jiwa penduduk di dalamnya.


Kesepian membuat dia selalu memikirkan kampung halaman di Pulau Madura dimana kawan-kawan dan keluarganya berada. Tempat pulang yang sekarang sangat jauh dari pandangan, dan hanya dengan ingatan kenangan rumah, kawan, dan keramahan masyarakat Madura itu muncul dan menari di pikirannya. “Di Madura tidak ada kemacetan, polusi, ataupun ketakutan-ketakutan lain tentang kehidupan” Saya tak bisa memberikan jawaban apa-apa atas ceritanya, saya biarkan dia bercerita tentang apapun yang  dirasakan selama hidup di kota ini. Sejatinya kawan saya ini adalah orang yang pintar, ulet, dan rajin, namun kini ia kalah, bahkan kekalahan yang dideritanya adalah dari musuh yang ia temui setiap harinya; realitas, yang sekarang menjadi hal yang legowo ia jalani. Namun saya tetap berharap api semangat masa mudanya dulu dapat menyala lagi, meskipun tidak untuk saat ini.


Kota-kota memang selalu memiliki banyak cerita, “Kota-kota, seperti halnya mimpi, terjadi karena Hasrat dan ketakutan,” kata tokoh Marco Polo kepada Kublai Khan dalam kisah masyur Italo Calvino. Ketika mengingat kata-kata itu saya selalu mengingat kawan saya yang saya temui ini. Malam sudah terlalu larut untuk kami berdua, saya diantarnya pulang ke penginapan, kami berpamitan dan berpisah. Saya masuk kedalam kamar, dan sedikit mengemas barang untuk pulang ke kota asal esok hari. Menjalani hidup yang sama seperti kawan saya lakukan, meskipun di kota yang berbeda.

 

 

 


Seseorang pernah menulis sajak, mungkin baginya harapan, atau barangkali sebuah kumpulan “Doa Sederhana Bagi Dunia yang Ruwet” barangk...



Seseorang pernah menulis sajak, mungkin baginya harapan, atau barangkali sebuah kumpulan “Doa Sederhana Bagi Dunia yang Ruwet” barangkali itulah solusi dari segala masalah manusia; berdoa.

Sebab seringkali kita terheran-heran. Siapakah atau pikiran? Di dunia yang penuh dengan keruwetan dan ketidakjelasan. Manusia hanya bisa berdiri dan merenung. Memilih berjalan bukanlah solusi yang konkrit, rencana bukan saja meminimalisir ancaman. Sahabat bisa berubah menjadi kekerasan. Joseph Conrad pernah menulis sepenggal bisikan putus asa manusia bernama Kurtz, yang sekarat di tengah hutan Kongo. “The horor, the horor”.

Kita bisa melihat ekpresi putus asa Kurtz dalam film Appocalipsye Now! Tapi bukan itu yang penting. Yang terpenting adalah kita bisa dibuat bergidik, mendengar seruan fanatisme yang sanggup menggerogoti dan membunuh. Sukma yang rusak lebih mengenaskan dari pada badan yang terkoyak peluru mesin. “Alam pikiran manusia” kata Conrad. “Mampu untuk melakukan apa saja, segala sesuatu di dalamnya, semesta masa lalu, semesta masa depan”.

Conrad masih mengambang dalam pembahasan keruwetan manusia tentang alam pikiran yang ada. Sumber keruwetan ada di dalam otak manusia, itu memang benar. Tapi siapa yang memilih? Tidak ada yang pernah memesan keruwetan pikiran kepada Tuhan, kalaupun ada, itu pesanan yang konyol.

China tahun 1989 pernah dibuat gempar dengan manusia yang menghadang empat tank sendirian. Tidak ada yang tahu dia siapa. Media dan warga dibuat penasaran. Siapa manusia tinggi berbaju putih yang menghadang keruwetan itu?

Sebelumnya demontrasi terjadi di daerah Tiananmen Beijing, puluhan demonstran mati ditembak tentara. Barangkali itu adalah alasannya. Tokoh kita ini mungkin adalah warga yang muak dan menahan marah. Barangkali saat menghadang itu juga ia berseru “kembalilah kalian, silahkan beristirahat, korban yang kalian habisi sudah cukup”.

Saat ini mungkin semua mengingatnya sebagai “The Tank Man” seseorang yang menghadang dan menghendaki semua yang mustahil. Sebab saat itu penguasa begitu superior. Penguasa dengan mudah mengatur dan menggunjing semua yang menuntut kemerdekaan, dan mematikan mereka yang bersuara.

Barangkali tidak sepahaman antara penguasa saat itu dan tokoh kita ini, walaupun itu baik, tidak sepenuhnya positif untuk bersama. Tapi Conrad juga melupakan sesuatu hal, semesta yang dijelaskan kurang akan satu permasalahan. “Semesta yang tak terduga” adalah sesuatu hal yang tidak bisa diprediksi, dikehendaki atau tidak, itu semua urusan individu. Merugikan atau tidak? Bermasalah atau tidak? Semua tergantung orang lain menyikapi.

Menilai berlebihan mungkin juga bisa. Tapi mempermasalahkan suatu hal yang lumrah bisa menjadi suatu kesalahan. Bagaimana kebingungan menjadi hal yang seringkali terpikir dibanding rasa lapar. Serba salah adalah sesuatu yang sering kali dihindari. Mungkin maksutnya seperti ini, Conrad berpikir semesta yang tak terduga akan datang, dan memang sudah datang. Lalu mereka akan seperti “The Tank Man” yang menghalau segala masalah yang merugikan.

Memang Heroisme muncul disaat-saat yang tidak diharapkan. Meskipun bukan di hari ini.

Tokoh kita kali ini bernama Semar, ia selalu digambarkan sebagai sosok bijaksana, juga selalu muncul di setiap pentas pewayangan den...




Tokoh kita kali ini bernama Semar, ia selalu digambarkan sebagai sosok bijaksana, juga selalu muncul di setiap pentas pewayangan dengan babak “goro-goro”. Semar adalah salah satu gambaran populer sebagai guru yang memberi wejangan tentang ilmu dan pandangan hidup kepada para murid-muridnya, serta menjadi peran masyarakat biasa disetiap lakon-lakon yang dipentaskan pada wayang jawa.
           
Ada banyak versi bagaimana Semar lahir, salah satu versinya adalah; saat itu Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati. Dari pernikahan itu lahirlah sebuah telur yang bercahaya emas yang menyilaukan, dan entah karena sebab apa telur itupun pecah dengan sendirinya. Telur yang pecah itu terbagi dengan tiga bagian, yang kemudian masing-masing menjelma menjadi anak. Anak yang berubah dari bagian cangkang telur diberi nama Antaga, Anak yang berubah dari bagian putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan dari kuning telur diberi nama Manikmaya.

Ketiga anak inilah yang nantinya menjadi tokoh guna membentuk poros cerita bijak epos Mahabarata. Manikmaya menjadi Bathara Guru yang ditugaskan menjaga kayangan, Antaga menjadi Togog bertugas untuk menasehati para tokoh antagonis Kurawa, sedangkan Ismaya bertugas menjadi pamong untuk para Pandawa.

Tugasnya sebagai pamong sama seperti Prabu Kresna, yaitu menuntun para anak-anak Pandu untuk memberi bimbingan karakter, moral, etika, ataupun bertindak. Tugasnya adalah menasehati, bukan untuk memprovokasi. Seperti halnya Togog di sisi Kurawa, Semar adalah sosok pelurus dari sekian jalan cerita yang absurd.

Semar setidaknya memang digambarkan dengan fisik yang ambigu, jikalau dia laki-laki kenapa dia memiliki payudara, kalaupun perempuan dia memiliki rambut ujung yang menyumbul. Mulutnya dipahat tersenyum, namun kelopak matanya dipoles sedih. Akan tetapi Semar tetaplah Semar. Seorang penasehat kerajaan dengan hidup yang melarat di desa Karang Kedempel, juga seorang rakyat jelata yang dihormati oleh strata ksatria. Bahkan dilakon “Semar Bangun Kayangan” dewa sekelas Bathara Guru sangatlah takut terhadap Semar. Banyak sekali kontradiksi terhadap tokoh kita ini, akan tetapi hal inilah yang membuat Semar menjadi tokoh yang menarik sebagai tritagonis disetiap lakon pewayangan.

Namun suatu pagi tokoh kita yang bijak ini nampak bingung dan gelisah. Petruk yang menyadari kegelisahan bapaknya menanyakan sebabnya. Berceritalah Semar bahwa sebab kegundahannya adalah mencemaskan kerajaan Amarta yang dipimpin Pandawa dirasa gagal untuk membangun dan memerintah sebuah kerajaan. Disinilah beban moral dipikul oleh Semar, sebagai guru Semar menilai dirinya gagal mendidik para Pandawa untuk memimpin suatu Negara.

Diutuslah Petruk untuk pergi ke Amarta untuk bertemu para Pandawa guna meminjam ketiga pusaka milik mereka. Ketiga pusaka itu adalah Jamus Kalimasada, Payung Tunggulnaga dan Tombak Kalawelang. Serta mengundang seluruh Pandawa untuk datang ke Karang Kedempel guna membangun Kayangan.

Sesampainya di Amarta Petruk mengungkapkan kedatangannya kepada para Pandawa yang saat itu sedang berunding dengan Kresna, perihal kegagalannya dalam memerintah. Petruk malah diusir oleh Kresna yang marah-marah, Kresna menilai Semar yang berencana membangun Kayangan sama saja melawan para dewa dengan membangun Kayangan tandingan. Hal ini juga sangat berbanding terbalik dengan tugas Semar yang notabenenya hanya sebagai pendidik para Pandawa. Sehingga bagi Kresna tindakan Semar harus diluruskan.

Petruk meyakinkan Pandawa bahwa tujuan bapaknya baik, oleh karena itu para Pandawa harus mendukungnya. Kengeyelan Petruk membuat Kresna sangatlah marah, sampai menyuruh Petruk untuk keluar dari Amarta.

Singkat cerita Kresna yang muntab pergi ke kayangan bersama Arjuna untuk mengadu dengan Bathara Guru, sedangkan para keempat pandawa yang masih gundah mencoba bersemedi di depan ketiga pusaka atas usul Sadewa. Mereka menyakini ketika bersemedi nanti, jika ketiga pusaka itu tetap berada di posisinya maka Kresna lah yang benar, namun ketika ketiga pusaka itu berpindah tempat maka Semar lah yang benar. Ditengah semedi mereka rupanya ketiga pusaka itu melesat dan berpindah menuju Karang Kedempel ke rumah Semar. Kempat Pandawa yang menyadari hal tersebut juga langsung ikut pergi ke Karang Kedempel, guna membangun Kayangan.

Dalam lakon ini sebenarnya ada kesalahpahaman seorang Kresna dalam menafsirkan kata “Bangun Kayangan” milik Semar. Dalam benak Kresna Bangun Kayangan adalah membangun surga guna menandingi surga yang telah dibuat oleh para dewa. Akan tetapi bagi Semar sendiri Bangun Kayangan sendiri adalah membangun hati. Ia menilai bahwa kegagalan Pandawa memerintah karena mereka sedang jauh dari hati nurani mereka dalam hal memimpin. Kritisnya negeri Amarta dikarenakan para pemimpinya yang sudah tidak merakyat lagi. Para pemimpin yang harusnya mengayomi dan melayani rakyatnya malah tidak lagi melakukan tugasnya.

Hal itu digambarkan saat Petruk datang ke Amarta untuk menyampaikan pendapat bapaknya malah diusir dari istana. Petruk yang sebagai tokoh rakyat jelata diusir oleh bangsa ksatria hanya karena menyampaikan pendapat. Bahkan para ksatria sampai salah menafsirkan dan marah-marah hanya karena mendapat masukan dari rakyatnya.

Dalam lakon ”Semar Bangun Kayangan” seperti menghadirkan nasihat kepada para pemimpin untuk selalu mendengar apa yang diucapkan rakyatnya. Ungkapan latin “Vox populi, vox dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan sangatlah kental dalam lakon tersebut. Nyatanya para pujangga jawa tak kalah lihai dalam menciptakan cerita guna mengkritik para pemimpinnya dulu. Bahkan lakon tersebut juga masih relevan sampai sekarang.

Sudah diceritakan, bahwa Semar menyuruh Petruk untuk meminjam tiga pusaka yang sebenarnya memiliki makna filosofis yang sangat dalam untuk para pemimpin. Pusaka Jamus Kalimasada adalah filosofi dari ucapan kedua Syahadat dimana pemimpin harus selalu ingat dan memegang teguh ajaran agamanya. Sedangkan dalam hal melindungi, melayani dan meganyomi diistilahkan dengan pusaka Payung Tunggulnaga, dengan maksud dapat memanyungi rakyat. Tombak Kalawelang sendiri diartikan bahwa pemimpin harus seperti tombak, sebagai pembenar dan menumpas segala bentuk kemurkaan, serta menegakan keadilan.

Walaupun sangat sulit untuk mencari pemimpin yang ideal dalam berbagai hal. Semua tentang kriteria pemimpin bagi kita hanyalah sebuah pengandaian, semua hanya cita-cita. Entah itu semua akan terwujud, atau hanya seperempatnya. Bijaksana, jujur, amanah dan segala hal tentang kesempurnaan itu hanya sebuah idealisme. Nyata tidaknya tergantung apa yang diperbuat dan dilakukan.  

          Bagaimanapun juga lakon “Semar Bangun Kayangan” akan tetap dipentaskan disetiap pewayangan, bukan untuk pengingat, bukan juga untuk melestarikan budaya. Akan tetapi untuk semua rakyat agar tetap menerima, bahwa para pemimpinnya juga orang biasa.

“Aku ingin pulang ke rumahku,Lintang. Ke sebuah tempat yang paham bau,bangun tubuh dan jiwaku. Aku ingin pulang ke Karet.” -Dimas ...




“Aku ingin pulang ke rumahku,Lintang. Ke sebuah tempat yang paham bau,bangun tubuh dan jiwaku. Aku ingin pulang ke Karet.” -Dimas Suryo. Hal: 280.

Salah satu teman dengan menggebu-gebu menyuruh agar saya membaca novel pulang karya Leila S, Chudori ini. Setelah mendengar secara ringkas ceritanya dan melihat beberapa review buku ini di internet. Akhirnya membuat saya penasaran dengan buku keluaran tahun 2012 tersebut.

Untuk menemukan buku ini saya harus mencari dengan memutari rak buku selama 2 jam, dan merepotkan 3 mbak-mbak penjaga toko buku Gramedia untuk membantu saya, walaupun itu sepenuhnya juga bukan salah saya. Karena buku berjudul pulang tersebut tidak ada pada rak buku dengan kode yang sama pada layar komputer pencarian.

Selain itu saya juga salah memberikan contoh cover buku pulang (cover pulang yang berwarna kuning) kepada mbak-mbaknya. Karena saya tidak tahu kalau cover yang terbaru adalah berwarna abu-abu dengan tulisan “pulang” yang disusun acak. Alhasil mbak-mbaknya harus mengelilingi rak dan mencari kesana-kemari dengan pikiran buku judul pulang dengan cover warna kuning, walaupun akhirnya mbaknya dengan nada menyerah berucap.

“maaf mas mungkin bukunya itu sudah ditarik, karena itu buku lama” kata mbak-mbaknya dengan name tag Rina tersebut.

“di komputer saya lihat masih ada 15 stok kok mbak” coba saya keukeuh.

“ohh mungkin itu system kami mas yang belum diperbarui” timpal mbak Rina lagi.

“ealah ya udah mbak kalo gitu” ungkap saya mengalah.

Lalu mbak Rina pergi seraya mengucapkan maaf. Sedangkan saya masih belum percaya bahwa buku tersebut sudah ditarik penerbit, karena jika di komputer pencarian itu masih ada, maka seharusnya di buku tersebut juga masih tersedia. karena semua buku yang masuk di Gramedia ini pasti sudah diinput dalam database, sedangkan kalau buku tersebut sudah tidak ada pasti didalam komputer pencarian menampilkan bahwa buku tersebut stoknya 0. Setidaknya saat itu ilmu IT saya sedikit berguna heuheuheu.

Saya lalu mencoba mencarinya lagi, berpindah dari satu rak kesatu rak yang lain. Dari rak sastra, pindah ke rak sejarah, lalu pindah lagi ke rak kesehatan: yang berisi buku kesehatan ibu hamil. Alhasil saya kembali pada rak sastra-novel. Lalu menemukannya, ternyata buku “pulang” tersebut berada di bagian bawah rak dengan cover terbaru (berwarna abu-abu dengan tulisan “pulang” yang disusun acak) saya cek pengarang dan sinopsis yang ada di bagian belakang, seraya menyakini bahwa ini memang buku yang saya cari. Dalam hati saya mengumpat sebisanya sambil beranjak ke kasir menenteng buku tersebut. Asuu.

***

JUDUL BUKU : Pulang
PENULIS : Leila S. Chudori
HALAMAN : viii + 464 halaman
PENERBIT : Kepustakaan Populer Gramedia
TAHUN TERBIT : Desember 2012

Bisa dibilang ini novel pertama saya yang mengambil latar cerita dari tragedi-tragedi di Indonesia dan Prancis era tahun 1965, 1968, dan1998. Ada tiga tragedi yang menjadi latar belakang cerita novel ini. Pertama adalah tragedi 30 september 1965 pemberontakan PKI Indonesia, kedua revolusi Prancis Mei 1968, dan ketiga reformasi Indonesia Mei 1998.

Saya lebih suka menggolongkan novel pulang ini sebagai novel sejarah, atau sejarah yang disembunyikan. Seperti novel tetralogi pulau buru karya Pramodya Ananta Toer yang mengisahkan bagaimana kebangkitan pemuda Indonesia era sebelum kemerdekaan yang jarang muncul dalam buku sejarah. Sedangkan di novel Pulang, lebih menceritakan tentang cara bertahan hidup para eksil maupun tahanan politik yang dicap sebagai PKI,  dan yang dikira pengikut ideologi kekirian pada saat itu. Keduanya sama-sama novel yang mengajak kita untuk merefleksi sejarah yang ada, dan yang hilang.

Di dalam novel ini menceritakan bagaimana dampak dari kejadian G30S PKI terhadap para keluarga yang memang ikut dalam PKI, Lekra, dan GERWANI. Bahkan yang hanya simpatisan atau memang cuman  berkawan dengan salah satu anggota PKI juga akan diciduk. Seperti diceritakan, semua yang berbau PKI pada saat itu ada yang ditangkap, diinterogasi, ditahan, diculik, atau bahkan dibunuh (dengan peradilan atau bahkan tanpa peradilan). Bahkan kutukan PKI tersebut akan mendarah daging sampai anak-cucu mereka, sehingga ada diskriminasi sosial pada saat itu. Di mana mereka yang masih dianggap sebagai keluarga para komunis, maka pada KTP mereka akan diberi tanda ET (eks tahanan politik), dan sulit mendapatkan pekerjaan.

Namun di novel pulang ini lebih menceritakan bagaimana perjalanan para eksil politik, yaitu Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjahjadi Sukarna. Yang harus berpindah-pindah Negara untuk bertahan hidup dan tidak bisa pulang ke Indonesia. Keempat tokoh itu dianggap pengikut komunis oleh pemerintah saat itu, sehingga jika mereka pulang ke indonesia risiko terkecil adalah ditahan, risiko terbesarnya bisa dibunuh.


Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Risjaf adalah seorang wartawan pada kantor berita Nusantara, yang sejatinya tidak memilih dan mengikuti hal-hal yang berbau komunis. Namun sudah dikategorikan pada saat itu bahwa media atau wartawan yang mengkritik pemerintah, maka akan dikategorikan menjadi musuh oleh pemerintah.

Sebelum kejadian pemberontakan G30S PKI 1965, Dimas Suryo dan Nugroho pergi ke Cile untuk menghadiri konferensi wartawan dunia, menggantikan Hananto Prawiro yang harus mengurus masalah rumah tangganya dengan Surti Anandari, yang juga adalah mantan pacar Dimas Suryo. Sedangkan Risjaf harus menghadiri event yang serupa di Havana.

Setelah meletusnya Pemberontakan tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk berkumpul di Havana sebelum pulang ke Indonesia. Namun karena mereka dianggap simpatisan PKI, paspor mereka dicabut, sehingga mereka tidak bisa pulang.

Sedangkan di Indonesia Hananto Prawiro yang memang simpatisan PKI dan memilih mengikuti ideologi kekirian, walau diceritakan Hananto sendiri tidak pernah mengakui bahwa dirinya ikut PKI, harus main kejar-kejaran dengan aparat. Sampai akhirnya tertangkap pada 1968.

Akhirnya setelah Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjahjadi Sukarna berkumpul. Mereka memutuskan untuk ke Peking (Cina) setelah itu baru mereka memutuskan untuk ke Paris. Disana mereka harus bekerja untuk bertahan hidup, gonta-ganti pekerjaan sudah menjadi kebiasaan. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk membuka restoran masakan Indonesia dengan nama “Tanah Air”.

Ditengah-tengah Paris yang saat itu sedang terjadi demontrasi yang dikenal sebagai Revolusi Prancis 1968, Dimas Suryo menemukan tambatan hatinya, seorang wanita Paris yang mempunyai sepasang mata berwarna hijau, dengan rambut tebal, berombak berwarna brunette. Bernama Vivienne Devereaux.

“Benarkah angin tak sedang mencoba menyentuh bibirnya yang begitu sempurna” –Dimas Suryo. Hal: 11.

Dari pernikahan mereka berdua melahirkan seorang gadis bernama Lintang Utara yang selalu bertanya-tanya jati dirinya, dan selalu penasaran tentang apa yang bisa dia petik dari Negara asal bapaknya, Indonesia.

“Bagaimana aku caranya memetik Indonesia dari kata I.N.D.O.N.E.S.I.A?” – Lintang Utara. Hal: 165.

Dimas Suryo sendiri dalam hatinya selalu memimpikan agar bisa pulang ke Indonesia, dalam hidup ataupun mati. Dia selalu merindukan Indonesia bau tanah setelah hujannya, keluarganya dan tidak ketinggalan wanita pujaannya Surti Anandari. Walau kepulangannya itu sangat tidak diinginkan oleh pemerintah Indonesia.

Novel ini jika ditelaah memiliki dua babak, pertama adalah babak perjuangan Dimas Suryo dalam hidup menjadi eksil politik setelah tragedi G30S PKI. Kedua adalah pencarian jati diri Lintang Utara yang belum ditemukannya dalam kata Indonesia yang mengambil latar tahun reformasi Indonesia 1998. Novel ini memiliki alur maju-mundur sporadis pada setiap babnya yang sangat mudah dimengerti dan nyambung.

Dalam penokohan penulis memberikan setiap tokoh, porsi yang cukup dalam setiap bab yang ada. Sehingga pembaca bisa mengenal para tokoh dengan sangat detail. Seperti salah satu bab khusus membahas full tokoh Hananto Prawiro, Bab lain membahas full Dimas Suryo, bab lain lagi bercerita dari sudut pandang Vivienne Devereaux, dan tidak ketinggalan Bab yang mengambil sudut pandang Lintang Utara. Namun saya agak riskan dengan penggambaran tokoh protagonist dan antagonis yang sangat kontras. Seperti penggambaran rupa tokoh protagonist yang selalu tampan, cantik dan tidak kurang apa-apa. Sedangkan untuk penggambaran rupa peran antagonis, penulis memilih untuk mengambil kata-kata seakan-akan mereka buruk rupa, seperti tokoh interogasi yang berwajah hitam legam dan mesum, intel yang ompong dan digantinya dengan gigi emas.

Kelebihan yang lain adalah referensi penulis yang sangat banyak, selain itu riset yang dilakukan penulis selama 4 tahun membuat cerita ini nyata dan luput dari kehidupan kita. Selain itu pengambilan kutipan beberapa tokoh-tokoh penulis dan judul buku-buku terkenal untuk dijadikan inspirator para tokoh dalam cerita, membuat cerita menjadi semakin kaya dan berisi. Bahkan saya sampai dibuat penasaran dengan tokoh-tokoh dan judul buku-buku yang acap kali muncul dalam dialog ataupun narasi cerita.

Namun kekurangannya adalah gaya bahasa dan pemilihan kata penulis dalam setiap tokoh cerita yang terlihat sama saja, walau dengan sudut pandang tokoh yang berbeda. Sehingga membuat tidak ada ciri khas tersendiri dari salah satu tokoh tersebut, selain itu juga akan sedikit membingungkan pembaca jika tidak teliti membaca setiap bab yang ada.

Terlepas dari semua kekurangannya, Novel pulang ini sangatlah rekomendasi bagi kalian yang ingin melihat dampak dari G30S PKI dari sudut pandang sejarah yang berbeda. Bahwa sebenarnya ada sebuah sejarah yang disembunyikan, yang membuat kita bertanya-tanya, apakah memang itu kejadian sejarah sebenarnya? Buku ini seakan menjadi pembanding sejarah G30S PKI yang ada dan kita amini sampai saat ini. Seakan ingin mengajak pembaca mengungkap apa yang terjadi sebenarnya saat itu. Ada tanda tanya besar dalam sejarah kelam bangsa ini yang belum banyak orang ketahui.

Manakah sejarah yang benar, dan siapa pembuat sejarah yang benar. Sejarah yang dibuat oleh pemerintah orde baru, atau kesaksian sejarah dari mereka yang terzalimi?

“Siapakah pemilik sejarah? Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang penjahat?" - Segara Alam. Hal: 288.


Rasanya kita tidak perlu iri dengan Vietnam atas lolosnya timnas nasional sepakbola mereka ke final AFC CUP dan piala dunia U23 di t...




Rasanya kita tidak perlu iri dengan Vietnam atas lolosnya timnas nasional sepakbola mereka ke final AFC CUP dan piala dunia U23 di tahun depan. Walaupun kalah satu gol lewat perpanjangan atas Uzbekistan, para pemain mereka disambut seperti tentara yang pulang sehabis memenangkan perang oleh rakyat  Vietnam. Negara komunis itu memang sudah jauh berbenah dalam segala aspek dari pada Negara kita. Dalam 10 tahun terakhir Vietnam berkembang pesat dalam segi  Ekonomi, kesejahteraan, pembangunan, dan olahraganya. berbanding terbalik dengan Indonesia yang saat ini baru memulainya. Walaupun semua sadar bahwa kita iri, namun bukankah itu menjadi tanda tak mampu?

Tepat hari ini, delapan puluh delapan tahun yang lalu, saat Vietnam masih dijajah Prancis. Tokoh revolusioner mereka Ho Chi Minh, mendirikan Partai Komunis Vietnamyang, walau lebih biasa dikenal dengan Partai Komunis Indocina (Vienam, Laos dan kamboja). Dengan sepuluh pokok tujuan, walaupun dirinya hanya menekankan pada 3 pokok saja.

Pertama, melawan imperialisme Prancis, yang mengarah ke feodalisme dan melawan perbedaan kapitalis borjuis di Vietnam.

Kedua, membentuk kemerdekaan Negara Vietnam secara penuh dari penjajahan Prancis.

Tiga pokok yang terakhir adalah cita-cita partai komunis di manapun keberadaannya. Mendirikan suatu birokrasi permerintahan yang diisi oleh kaum dan golongan petani, buruh dan militer.

Motivasinya adalah mengisi kekosongan gerakan oposisi pribumi di Vietnam, menggantikan partai Sosialis Vietnam yang berhasil diberedel oleh Prancis.  Tahun  1929, partai Sosialis Vietnam melacarkan serangan atas penjajahan Prancis atas bangsanya. 229 anggota partai ditangkap dan sisanya melarikan diri ke Cina mencari perlindungan.

Dengan kekosongan tersebut Ho Chi Minh keluar dengan pengalamannya belajar pada tokoh-tokoh sayap kiri di Prancis. Dan mendirikan Partai Komunis disana pada tahun 1912, bersama sekelompok kawan imigran Aljazair, Senegal, India, dan Asia yang terbuang di kota Mode itu.

Sebelas tahun berselang berangkatlah dia ke Moskow sebagai delegasi menghadiri Kongres Tani Dunia. Selama setahun dia tinggal untuk belajar pergerakan dan propaganda komunis pada pimimpin-pemimpin Soviet, seperti Nikolai Bukharin, Leon Trotsky, dan Joseph Stalin. Disanalah pemikiran Marxisme-Leninisme Ho Chi Minh sudahlah matang.

Bahkan pada tahun 1925, Ho Chi Min dikirim ke Cina untuk membantu pergerakan Komunis disana. Di Cina, Ho Chi Minh mengajak para pemuda pengungsi Vietnam, yang rata-rata adalah para pelarian politik, mendirikan “Perkumpulan Pemuda Revolusioner Vietnam.” Walaupun itu sebebarnya adalah propaganda untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran komunis kepada para kadernya.

Mengutip suatu percakapannya dengan orang Prancis Ho Chi Minh berkata: “Saya tak punya tentara, saya tak punya uang, saya tak punya diplomasi. Saya hanya punya kebencian, dan saya tak akan melucutinya.” Kebenciannya ini bukannya tanpa alasan, karena ledakan kebenciannya pada penjajahan Prancis yang ia dan keluarganya rasakan sengsaranya saat kecil dulu.

Setelah semua pergerakan dan perang gerilya berkepanjangan dengan Prancis, tanggal 2 september 1945, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam dibawah bendara komunis. Kemerdekaan ini tak berlangsung lama karena setelah Prancis pulang, Amerika datang membawa bedil.


Terpecahnya Vietnam menjadi dua bagian, Vietnam Utara yang bergerak ke komunis (dibawah dukungan Uni Soviet dan sekutu) dan Vietnam Selatan yang bergerak ke Kapitalis (dibawah dukungan Amerika Serikat dan sekutu). Membuat perang tak bisa terelakan.

Walaupun dalam prakteknya, perang tersebut adalah gengsi Amerika melawan Uni Soviet. Di mana Vietnam dibantu pasokan persenjataan dan kendaraan perang guna memngimbangi semua gempuran Negara Adi Kuasa. Perang berlangsung 10 tahun dengan Amerika harus menelan kekalahan.

Sampai sekarang Partai Komunis masih menjadi satu-satunya partai yang ada di Vietnam (Negara satu partai.) Ho Chi Minh memang sudah merencanakan bentuk Negara ini sedari dulu, sebagaimana sebagai pegangan gerakan “pembebasan nasional” di Asia Tenggara, bukanlah filosofi rumit tentang meterialisme historis dan ketiadaannya Tuhan (ateisme.)

Selayaknya kembali tidak perlu iri dengan Vietnam. Tidak perlu komunis, tidak perlu sosialis. Namun mungkin itulah sebab persoalan. Walaupun, seharusnya ada yang memberi jawaban, terhadap pertanyaan yang tak mudah dipecahkan.
Semuanya tergantung pada orang Amerika. Jika mereka ingin melakukan perang selama 20 tahun maka kita akan melakukan perang selama 20 tahun. Jika mereka ingin berdamai, kita akan berdamai dan mengundang mereka untuk minum teh sesudahnya. - Ho Chi Minh 





Sekitar pukul sebelas malam kemarin (26/11) tersebar sebuah video tentang anjuran jangan mempercayai berita hoax dari menteri komunik...



Sekitar pukul sebelas malam kemarin (26/11) tersebar sebuah video tentang anjuran jangan mempercayai berita hoax dari menteri komunikasi dan informasi badan eksekutif mahasiswa (BEM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Memang tidak ada yang salah dari ucapan beliau, seperti “mantan saja bisa dicuekin masa berita hoax tidak” Namun publik UTM yang punya mantan ataupun yang tidak punya mantan dibuat bingung oleh pernyataan beliau.“berita hoax? Emang ada berita hoax yang tersebar ya sekarang?”.

Memang di UTM sedang memanas karena pesta politik pemilihan presiden mahasiswa dan wakilnya.Kampus yang digadang-gadang menjadi miniatur sebuah Negara. Akan tetapi publik UTM agak tidak peduli dengan pemilu ini, salah satu kawan, saya tanya tentang hal tersebut menjawab “Ah persetan dengan pemilu ini, presma atau wapresma aku tidak peduli, yang penting besok saya kuliah, praktikum dan dapat ipk tiga.” Jika ditelaah jawabannya memang tidak sepenuhnya salah, karena tahu atau tidak, dan memilih atau tidak, serta siapapun kandidat yang terpilih juga tak akan berpengaruh banyak dengan kuliahnya.

Namun jika begitu, dalam situasi politik UTM saat ini, tersebarnya berita hoax memang sangatlah mungkin terjadi. Entah itu oleh lawan politik, sekutu bahkan kawan sendiripun rasanya mungkin. Seperti yang kita tahu, apapun akan dilakukan untuk menang. Berita dan isu-isu hoax adalah salah satu hal senjata mujarab untuk kepentingan menjatuhkan lawan. Maka dari itu tidak salah jika pak menteri memperingatkan agar kita bisa membedakan berita hoax dan mana yang tidak. “kalian sudah mahasiswa harus bisa membedakan mana berita hoax mana yang tidak” ucapnya. Akan tetapi publik UTM masih bingung, mana sebenarnya berita hoax yang dimaksudnya itu?

Setidaknya ini menjadi pengingat bagi publik UTM agar lebih cermat dan teliti dalam melihat, mendengar dan menangkap sebuah informasi disaat pesta demokrasi seperti ini. Karena semua bentuk informasi dari gambar, pamflet, banner dan ucapan para calon presiden mahasiswa (presma) dan wakil presiden mahasiswa (wapresma) bisa jadi hanya hoax. Semua calon sudah menyiapkan visi dan misi, akan tetapi semua pasti tahu bahwa visi dan misi yang diusung oleh masing-masing calon adalah sebuah informasi dan cita-cita. Tetapi, akan menjadi hoax jika tidak terlaksana. Mungkin ini yang dimaksud pak menteri, kita harus lebih tahu dan cermat memilih pemimpin lewat sumber informasi yang ada. Dengan tidak memilih calon presma dan wapresma yang melebih-lebihkan suatu hal. Seperti visi dan misi yang tidak mungkin tercapai, janji-janji pemanis yang tak masuk akal, atau mungkin bentuk sosialisasi pengenalan (pamflet, banner, grafis) yang berlebihan. karena kita paham sendiri berlebihan itu tidak baik. banner yang besar dimasing-masing sudut UTM misalnya.

Namun jangan salah dalam lanjutan video tersebut pak menteri manganjurkan kita untuk berkhidbah, menjelaskan definisinya serta memberikan gestur angka dua. Apa coba maksudnya? Bukankah berkhidbah itu jargon dari salah satu calon. Apakah ini bentuk dari ajakan untuk memilih salah satu calon tersebut? Publik pun rasanya sudah mengerti apa yang dimaksud oleh pak menteri. Dan rasanya tak baik jika salah satu jajaran tinggi di kampus memilih untuk condong ke salah satu calon presma dan wapresma, condong sih boleh tapi ya jangan blak-blakan juga pak.

Dari sini kita harusnya bisa bersikap, mana yang layak jadi pilihan kita kelak. Semua calon sama saja, semua visi dan misi sama saja, semua janji-janji rasanya intinya juga seru pa. Toh semua visi, misi dan janji terdengar sama seperti capres dan cawapres sebelum mereka. Ingin merekatkan semua organisasi intra di kampus, yang ingin mementingkan hak para mahasiswa, dan lebih berkontribusi bagi UTM dan masyarakat. Presma dan wapresma dari dulu visi dan misinya juga begitu, tapi apa yang kalian rasakan, apakah ada yang tercapai?

Kami akan tetap berusaha menyelamatkanmu, di dalam ruangan terbakar itu kami akan tetap berusaha. Begitulah suara dari toa yang bera...



Kami akan tetap berusaha menyelamatkanmu, di dalam ruangan terbakar itu kami akan tetap berusaha. Begitulah suara dari toa yang berasal dari mobil regu penyelamat. Serak dan lantunan putus asa. Sebelumnya suara deru dan rentetan ledakan menyeruak lebih dulu dikeheningan pagi, dan tiba-tiba kobaran api membakar atap, menggubah langit cerah menjadi seketika gelap. Bangunan itu tidak lagi terlihat seperti bangunan, hanya ada api yang menjalar-jalar mencari mangsa. Hanya gemerlap panas lalu menyipitkan mata, dan suara toa itu masih berserak berusaha menyelamatkan orang yang terkunci di dalam, tentunya itu hanya penenang.

Suara lolongan tolong, memiriskan pendengaran, gedoran pintu bangunan nyaring dari dalam. Mereka yang ada di dalam hanya minta satu hal, tolong bukakanlah pintu itu.

Pintu itu adalah malapetaka kami jika tak terbuka. Kami memohon kepada siapa saja, tolong bukalah. Wahai toa yang hanya berkoar, apakah kau bisa membukanya demi kami? Jika kau bisa bukalah! Jika tidak bisa, cukup kirimi kami doa.

Matahari tak tertembus, angin menjadi musuh alami. Akan tetapi kami akan tetap meyelamatkanmu.

Akan tetapi siapa kau wahai suara toa yang hanya bersuara?

Kami adalah sumber selamat. Kami yang sedang berjibaku melawan asap dan ledakan. Kami yang masih berusaha menyelamatkanmu. Kami yang tetap berusaha mencarimu, korban yang terkunci di dalam bangunan. Kami adalah sebuah regu penyelamat, yang tak dan sedang berdinas, yang tak berpangkat, tak berpasukan. Kami adalah pertanyaan yang penasaran, sebuah pencarian yang terbatas.

Katakana lagi apa yang sedang kau cari?

Kami berbunyi seperti Guntur, kami tak tampak seperti garis lintang, kami tertera seperti bintang penanda arah. Kami seperti kamu, namun bedanya kami diluar. Kami adalah yang akan menyelamatkanmu. Kami akan menemukanmu, menghapus peluh hangat di ubun-ubunmu. Mengucurkan air di badanmu, memompa oksigen untuk paru-parumu. Kami adalah rindang yang meneduhkanmu. Korban di balik pintu, kami berhasil! Pintu itu terbuka untukmu, keluarlah!

Namun dengar, coba kau dengar sekali lagi, di dalam sana masih ada suara.

Bukankah kami sudah bilang dari awal, kami akan menyelamatkanmu, dalam keadaan apapun. Berserakan ataupun utuh, sawo matang ataupun gosong, nyata ataupun fana. Nyatanya pintu yang tak mungkin bisa dibuka itu, berhasil kami buka. Jika kalian tanya solusi untuk yang terjebak di dalam, kami sudah punya. Jika tidak ada jalan keluar, buatlah jalan keluar itu sendiri. Robohkan tembok samping bangunan dan biarkan teriakan nanar minta tolong itu keluar.

Tapi benar saja, masih ada teriakan minta tolong di dalam, kali ini aku yakin wanita.

Kami tetap akan mencarimu. Kami meniti titik-titik dengan selang air. Melangkahkan kaki di tengah bara. Kami hanya ingin tahu, kematian manakah untukmu, siapakah yang menjemputmu, dan adakah yang terbaring dengan mata merah memimpikan api.

Kau tak akan mendapatkan apa-apa, saudara yang berkoar lewat toa, teriakan wanita itu telah terkulum oleh hawa panas duka nestapa. Ledakan-ledakan itu telah memungutnya, api dan bara telah menampung putus asa sampai akhir napasnya. Di sana gelap hanya sebentar, kau tahu? Sebuah khayal bagi petugas pemadam, sebuah ilusi bagi warga sukarela, sebuah jarak yang hanya syarat.

Akan tetapi kami akan mencarimu, hidup ataupun mati. Wahai semua teriakan tolong, kami pasti akan. Ke dalam ruangan, ke sisa-sisa tumpukan hangus bangunan. Melihat gosong tubuhmu, membau getir panggang badanmu, mengenang teriakanmu, sampai ke dasar kenangan kantung sendiri. Terlepas dari tukang las itu, kami bersalah. Hallo kerena kami semua bersalah.

Aku kurang mengerti tentang memahami perasaan, kalaupun aku bisa lantas mau apa? Bukankah lebih baik diam saja dan bertingkah sedia kala...


Aku kurang mengerti tentang memahami perasaan, kalaupun aku bisa lantas mau apa? Bukankah lebih baik diam saja dan bertingkah sedia kala? Bagi ku itu lebih bijak dilakukan. Pernah rasanya menjadi orang yang pendiam, namun hati meronta memaksa paham dengan rasa. Kegundahan, picisan, benci dan isi hati mereka rasanya dengan diam pun aku mengerti. Mengapa coba kau sembunyikan? Bukankah kau orang yang tak pandai menyembunyikan kegelisahan hatimu? Ayolah selain hatimu sendiri, ada hal lain yang lagi-lagi kau bohongi.

Rasanya aku tidak perlu cerita, percuma. Dulu pernah aku menguntit semua isi harimu, bertanya dengan orang yang ku kenal dan berjalan diam-diam di belakang mu. Sebetulnya itu tidak baik dilakukan, akan tetapi untuk memahamimu aku harus melakukan apa selain begini? Terang-terangan? Gila saja! Kau kira, aku cukup berani muncul tiba-tiba dihadapanmu. Keberanian ku belum cukup, jangankan menyapa, melirik saja mata terpaksa malu. Ayolah raga harusnya kau mendukung kemauan hatimu, jangan malah sebaliknya. Bukankah kita harus selalu percaya dengan kata hati? Namun entah mengapa selalu kalah dengan percaya diri.

 Andaikan waktu itu, saat selagi kau berdiri menunggu diambang pintu sambil menatap langit yang menurunkan air berkahnya. Waktu itu aku tatap kau dari jarak amanku, memperhatikanmu tak perlu terlihat bagiku. Namun hati lagi-lagi memaksa lebih dekat, berkenalan? Gila saja! Kau kira segampang itu? Lagi-lagi hati mengambil alih, dan kaki seakan melenggang dengan sendiri menghampiri. Dekat-mendekat dan sampai disamping mu, gadis penunggu hujan.

Ada bisu lama, sangat lama, bahkan dua menit di sampingnya bagai 2 jam dirasa. Canggung? Oh tentu tidak. Mungkin hanya bingung memulai dari mana. Haruskah mulai dengan bercakap tak perlu? Lagian  tetapi aku tipe orang yang tak suka berbasa-basi. Namun rasanya aku juga tak perlu memulai semua dengan berkata. Bahkan dengan diam disampingnya aku sudah bisa merasakan perasaannya. Memakna raut wajah sendunya, menatap mata sayunya dan menangkap gestur tubuhnya aku sudah bisa menerka isi hati dan kemauannya. Jangan salah sangka aku bukanlah peramal ataupun dukun. Mungkin ini semua memang murni urusan hati, jika kita berada didekat orang yang kita kagumi lalu memperhatikannya dengan teliti pasti kalian semua akan mengerti perasaan ku saat ini.

***

Hujan turun deras, air dari langit itu jatuh teratur membentur tanah, bunyi suara dan bau khas tanah ketika hujan menambah suasana menjadi pulam. Seorang gadis merengut cemas menunggu hujan dengan mendekap tangan niat melawan gigil. Sedang disampingnya ada laki-laki yang diam menyembunyikan maksud niat sapa kenalnya tercekat di tenggorokan. Hujan mengambil alih suasana dengan suara untuk mengisi hening diantara mereka. Bahkan tanah sampai tertawa, bagaimana bisa ada dua orang penunggu hujan yang berdiam-diam tak mengucap kata. Kalian harusnya bisa berkenalan, saling berjabat tangan, bertukar nama masing-masing dan pembicaraan pasti akan mengalir begitu saja. Namun kenapa kalian berdua tidak begitu? Ayolah sudah terlalu banyak tanda tanya diantara hening kalian berdua. Bahkan saya sampai jengkel. Begitukah Bengal si laki-laki untuk menyapa duluan? Padahal  gadis itu sebenarnya dalam hati juga ingin disapa, tapi ya gitu, masak perempuan yang mulai duluan? Dasar gengsi selalu menjadi penghalang nomor satu jika sudah bersangkut-paut dengan hati.

***

Langit masih berhias hitam pekat, hujan belum ada tanda-tanda niat akan berhenti dan kami berdua belum memulai sebuah sapa. Kendati demikian cukup disampingnya aku paham, kau sedang gelisah entah karena apa. Sedari tadi kau sibuk membuka isi handphonemu, ada yang kau tunggu atau mungkin ada yang sedang kau kejar, entahlah kegelisahanmu itu karena apa? Inginku bertanya, namun lagi kutahan itu semua.

Bahasa tubuhmu meminta agar hujan reda, terlihat dengan sejanak kau mendongak ke atas lalu mendongak lagi cemas memohon hujan henti, namun langit tak mengamini pintamu. Kenapa kau gusar? Mungkinkah ada aku disampingmu, orang asing yang berdiri disebelahmu ini apakah menakutimu?  Iya mungkin. Aih ternyata mungkin aku penyebabnya, maaf-maaf aku telat menyadarinya. Baiklah mungkin aku harus pergi dari sampingmu.

Melangkahlah kaki ku keluar diantara deraasnya hujan, ah bodoh! Kenapa aku malah hujan-hujan. Bukankah ini adalah hal yang bodoh dilakukan di hadapanya. Lagi kelewat tanggung, terlanjur basah mau dikata apa lagi, dengan menyesali tindakan diri, aku lari ditengah hujan yang dengan cepat membuat baju hitam ku basah kuyup. Namun dari belakang ada suara depakan kaki, ada yang membututi ku, dan anehnya ikut juga berlari ditengah hujan seperti ku sambil membawa payung warna merah jambu, namun ternyata itu bukan kau.


Memang berbahaya manusia yang berusaha mencari kebenaran, tapi lebih berbahaya lagi bila kita merasa telah mendapatkan kebenaran itu sen...

Memang berbahaya manusia yang berusaha mencari kebenaran, tapi lebih berbahaya lagi bila kita merasa telah mendapatkan kebenaran itu sendiri.

Jika kita Tarik kebelakang cerita Columbus berlayar dari Spanyol ke barat dan menemukan Benua Amerika. Lalu apa yang sebenarnya yang ia cari? Sebelumnya dia meminta kepada Raja Spanyol dua hal atas penemuannya nanti: kehormatan dan kekayaan. Namun semua bingung apa sebenarnya yang  akan dia temukan dan buktikan dalam pelayaranya nanti. Tapi Columbus memang sangat yakin dalam perjalannya akan menemukan hal baru dan kebenaran yang selalu ditangguhkan. Ia mungkin agak terpengaruhi dan hampir percaya setelah membaca tulisan Marco Polo tentang perjalanan menuju ke timur (hindia) dan tentang “ Bumi itu bulat” yang ada dalam kitab agama.

Memang Columbus hidup pada abad ke-15 di Eropa. Ia tidak yakin tentang ajaran yang disponsori kalangan agama waktu itu, bahwa bentuk bumi adalah seperti piring, bukan seperti bola. Walaupun sebenarnya Columbus tidak berniat murtad. Ia justru orang yang selalu inggin membuktikan kebenaran. Mungkin dalam pelayarannya, ia nantinya akan mendapatkan jawaban sesungguhnya bagi seluruh umat manusia dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu Columbus bukan orang yang skeptis, ia orang yang percaya.

Namun ternyata dalam layarnya ke barat. Laut yang memisahkan “ujung barat” laut Negara Spanyol dengan “ujung timur” (saat itu Hindia) ternyata tidak sempit. Benua yang dia temukan rupanya bukan ujung timur, namun daratan baru. Mungkin benar bahwa sejarah memang dipenuhi oleh penemuan-penemuan yang separuhnya benar, atau sepenuhnya salah. “tak bisa dibayangkan Columbus semangat menantang maut dalam membuktikan bahwa bumi itu bulat. Seandainya bukan kesalahan bahwa bumi itu hanya seperti pinggiran piring, mungkin daratan Amerika itu tidak ditemukannya. Dan seandainya tokoh terkemuka saat itu tidak menjadikan bumi datar sebagai kebenaran ilahi.”

Kalimat tanda kutip itu merupakan bagian dari sebuah pendapat. Bahwa kesalahan, bukannya “kebenaran” yang menjadi sendi perjalanan hidup kita.

Ahli pikir ilmu pengetahuan, Kalr R Popper berkata “aku akan memperkenalkan pengetahuanku yang secuil ini agar yang lebih baik dari aku dapat mengkaji kebenaran, dan dengan demikian membuktikan serta mencari kesalahanku. Dan dalam hal ini aku akan berbahagia bahwa aku toh masih tetap salah satu alat yeng memungkinkan kebenaran muncul.”

Kalr R Popper menggaris bawahi lagi bahwa manusia itu bersifat salah. Karena manusia paling cuman  mampu menampilkan dugaan-dugaan. Terhadap suatu perkara berdasarkan keterbatasan pengetahuannya saja. Dugaan itu hanyalah sebuah dugaan bukanlah kebenaran ataupun kepastian. “di atas dugaan-dugaan inilah hidup kita berjalan, di atas kesalahan dan kekeliruannya lah hidup kita berubah.”

Maka, dugaan ini tidak akan berarti kalau disimpulkan dengan kepastian ataupun kebenaran. Artinya dugaan sengaja dibelokan agar tidak langsung disimpulkan menjadi sebuah hal yang salah. Dengan demikian pernyataan semakin baik dan berarti kalau semakin menyediakan lebih banyak kesempatan untuk disalahkan, untuk ditolak.

Dalam sophisme seseorang mengatakan bahwa “Tidak ada kebenaran.” Padahal dalam pernyataan “Kebenaran” mungkin seperti ini: kita hidup bukan untuk merumuskan suatu pernyataan yang salah. Manusia hakikatnya selalu mencari kebenaran. Hanya ia harus selalu bersedia dengan pengakuan, bahwa yang ia capai tak akan pernah bulat.

Mungkin juga seperti kata-kata seseorang yang bijak: ”memang berbahaya manusia berusaha mencari kebenaran, tapi lebih berbahaya lagi bila kita merasa telah mendapatkan kebenaran itu sendiri.” Karena kebenaran itu dalah hal yang relatif.

Maka begitu malangnya manusia yang ingin agar ucapan, dugaan  dan pernyataannya diterima sebagai kebenaran dan kepastian yang tak tergugat. Toh Columbus yang berencana ke hindia, ternyata malah menemukan Amerika.








Pukul tiga sore rombongan sirkus datang ke salah satu kota di Negara Italia, sudah pasti semua warga kota menyambutnya dengan sorakan g...


Pukul tiga sore rombongan sirkus datang ke salah satu kota di Negara Italia, sudah pasti semua warga kota menyambutnya dengan sorakan gembira. Manusia besi, atraksi berjalan diatas tali, sulap, sepeda roda satu dan binatang-binatang buas yang terlatih. Namun barang tentu yang paling ditunggu oleh semua orang adalah aksi lucu si badut bernama Pagliacci, yang selalu membawa humor dan candaan yang dibutuhkan oleh semua orang yang lelah dengan tuntutan kehidupan pada masa era industri.

Pagliacci selalu sukses membuat semua orang tertawa disetiap aksi panggungnya. Dengan rupa muka penuh sapuan bedak, selai lebar untuk membentuk mulut yang terbuka. Mata lebar dan berbalik dibentuk lengkungan alis dan masing-masing pipi dibuat merah sehingga memperlihatkan kesehatan yang terlihat berlebihan. Dia rela akting jatuh bangun, berpantomim dengan mimik muka yang dijelek-jelekan, bahkan jika perlu dia sedia berimprovisasi dengan tingkah dan ucapan yang membuat dirinya malu sekalipun. Apapun akan dilakukannya demi tawa mereka, seakan memberi pesan bahwa selain hidup yang kalian jalani, ada hidup orang lain yang perlu kalian tertawakan.

Tenda berbentuk kerucut sudah didirikan, lampu sorot sudah menyala menerawang ke penjuru sela dan segala properti pendukung pertunjukan sudah ditata di keadaan seperti biasanya. Namun ini masih jam tiga, sedangkan pertujukan baru akan dimulai satu jam sebelum matahari tenggalam dan seluruh penjuru kota sudah riuh membicarakan tentang sirkus dan si badut Pagliacci.

Disebuah bar terduduk seorang pria setengah baya dengan botol alkohol di tangannya, terhitung itu sudah botol kelima. pandangannya mungkin sudah kabur dan kesadaranya mungkin sudah pada pangkalnya. Dia akan meminta botol keenam namun si bartender tidak memberikannya. “Aku tidak akan memberikan botol untumu lagi!” serunya kepada si pria tersebut. “Jika kau memang banyak pikiran dan memerlukan bantuan pergilah ke dokter di ujung gang sana, dia  pasti akan membantu permasalahanmu.” Tambah si bartender. Memang pria itu sedang depresi, bahkan semasa hidupnya dilaluinya dengan angan yang tak pernah tersampaikan dan impian yang juga tidak terkabulkan. Bangkitlah si pria setengah baya itu dari duduknya dengan sadar yang dipaksakan dia melangkah tegap ke rumah dokter yang diharapkannya dapat membantu keadaan depresinya.

Sesampainya di dalam rumah dan bertemu sang dokter, pria itu pun mengadu bahwa ia sedang sangat depresi. Hidup dirasanya sangat kejam mengucilkanya, begitu tidak adil juga dirasa semesta membagi nasib kepadanya. Pria itu berkata lagi bahwa “dunia seakan tidak pernah berpihak kepadaku, apa yang aku ingin dan aku impikan tidak pernah sampai pada diriku. Aku merasa semua orang bisa tertawa dengan semua apa yang mereka capai, sedangkan aku harus menangisi apa saja yang gagal aku capai” keluh pria itu sambil menangis. Dokter itu diam sesaat sambil memikirkan obat apa yang cocok bagi si pria malang tersebut. Lalu si dokter ingat bahwa akan pertunjukan Sirkus yang akan diadakan di kota nanti sore. Sang dokter menatap si pria setengah baya dan berkata bahwa obat untuk penyakitnya sederhana saja. "Nanti malam, ada  sirkus dengan seorang badut yang akan beraksi di tengah kota.
Namanya Pagliacci. Saksikanlah pertunjukannya, pasti kau lebih bahagia, dan akan membuatmu sedikit lebih baik" ujar dokter.

Namun mendengar usulan tersebut, sang pria bukannya lega. Yang bersangkutan malah tertunduk, menelungkupkan tangannya ke wajah, dan malah menangis sejadi-jadinya. Dokterpun tak habis pikir dengan apa yang salah dengan sarannya barusan. Lalu dengan suara sesenggukan pria itu menjawab dengan air mata deras menetes. "Tapi Dok, Saya lah Pagliacci"

Itulah sepenggal adegan opera berjudul pagliacci yang polpuler di Italia pada tahun 1892. Sebetulnya pagliacci opera dengan konflik percintaan dengan diakhir cerita terdapat pembunuhan. Ruggero Leoncavallo membuat cerita opera ini dengan Pagliacci adalah sebuah cerita keadaan orang-orang masa itu. Sebenarnya jika dilihat pada masa sekarang, banyak orang-orang yang memerankan peran sebagai Pagliacci. Mereka itu nyata diantara kalian, tersenyum dan tertawa bersama-sama kalian namun menangis nanar dibalik panggung sandiwaranya.

Robin Williams aktor kawakan ini sepanjang karirnya diperfilman Holywood sudah banyak memerankan peran yang sama seperti watak Pagliacci. Keahlian Williams berimprovisasi dalam melucu seakan keluar secara natural dari dirinya.

Ia seperti tanpa upaya berganti mimik, menciptakan situasi-situasi konyol, dan merepetkan dialog-dialog kocak dalam rerupa aksen. Bakat peran tersebut tak hanya mengundang tawa. Tak jarang juga air mata penonton ia buat menetes lewat aksi peran dalam film-filmnya, seperti saat memerankan anak kecil memainkan permainan papan yang menjadi nyata dalam “Jumanji” (1995). Mengisi suara sebagai jin biru dalam film animasi disney ”Aladdin” (1992) Sukar melupakan kesedihan yang ia terjemahkan dengan begitu baik saat membaca bait-bait puisi Pablo Neruda untuk kekasih yang telah meninggal, kala memerankan dokter pendobrak dalam "Patch Adams" (1998). Atau cara ia menatap para murid yang menolak pemecatannya saat berperan sebagai guru revolusioner dalam "Dead Poets Society" (1989). 

Namun lain di depan, lain juga dibelakang layar kaca. Williams ternyata seorang pribadi tak tenang dalam hidupnya. Ia sudah lama mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol dan koakain. bahkan kebiasaannya tersebut ia lakukan sejak akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Kebiasaan buruknya sempat berhenti saat kelahiran anak pertamanya pada tahun 1983, namun kebiasaannya minumnya muncul kembali pada tahun 2003.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Inggris the Guardian pada 2010, Williams menceritakan banyak kesedihan. Menurutnya ia kerap kali merasa kesepian dan ketakutan. Dan ia kerap mengobati perasaan takutnya tersebut dengan banyak meminum alkohol.

Wiliams juga mengenang beban berat bekerja sebagai aktor Hollywood. Ia ingat pernah terlibat dalam pembuatan delapan film dalam dua tahun. Menurutnya, ada sejenis kekhawatiran dalam diri para penampil bahwa jika mereka berhenti tampil, mereka terlupa. Williams menderita depresi sepanjang hidupnya, dan juga berjuang mengatasi kecanduan obat-obatan terlarang dan alkohol. Namun tanggal 11 Agustus 2014, ia ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Paradise CayCalifornia.

Ia menghibur masyarakat sebagai seorang komedian, namun harus mengakhiri hidupnya karena depresi. Sangat pilu jika mengetahui bahwa orang yang menyediakan tawa untuk orang lain, ternyata ia tidak bisa menemukan tawa untuk dirinya sendiri. 


"Bagi dirimu yang mengalami depresi, temuilah orang-orang yang kau cintai. Bunuh diri merupakan solusi permanen, untuk masalah yang sementara" - Robin Williams



Badanmu yang rapuh kau paksakan tegar didepanku, di sikumu kau tompang kayu sebagai penyeimbang tegak berdirimu. Cafe yang tak begitu r...


Badanmu yang rapuh kau paksakan tegar didepanku, di sikumu kau tompang kayu sebagai penyeimbang tegak berdirimu. Cafe yang tak begitu ramai dan malam yang panjang menjadi media bagimu bercerita kepadaku. Lampu pijar diatas meja menyala muram seperti tatapan ekspresimu yang duka entah karena apa. kamu masih saja malu setiap akan membuka percakapan tapi ditenggorokanmu nyatanya ingin saja mengeluarkan kata-kata, namun mulut kau tutup rapat sehingga kata-kata tertahan dan kegelisahanmu belum tersampaikan.

Matamu yang sayu, kau paksakan terbuka di hadapan kata, malam ini matamu menjelma sebagai kutukan, berburu arti yang terbang bebas di udara, aku sedikit gusar melihat tatapan itu, air mata dan peluh terlihat sama. Suka duka tak ada beda. Inisiatif membuka percakapan aku lakuakan, dan nyatanya kau respon obrolanku dengan riang.  Akhirnya kau bercerita panjang dan lebar, tanpa peduli titik dan koma. Kata-kata mengalir bagai sungai mencari muara. hanya cerita sepi menjadi puisi. Dan lemon tea yang kau pesan akhirnya menjadi berguna sebagai pelapas dahaga cerita panjangmu.

***

Entah aku juga bingung kepada mereka yang kuat menahan cerita ketika masalah melanda. Bagaimana mereka tampak bisa biasa saja, bagaimana juga cara mereka menyembunyikan masalah mereka, apakah mereka diam-diam memiliki kantong yang dikhususkan menyembunyikan masalah lantas mereka masukan semua masalah mereka kedalam kantong itu lalu disembunyikan dibalik saku celana. Atau mereka mempunyai otak ganda yang mereka sembunyikan di dalam kulkas, otak satu dipakai sebagai penampung masalah dan kesedihan. Sedangkan otak yang lain khusus sebagai tempat kebahagiaan yang dipakai sebagai alibi mereka jika keluar dari rumah, sehingga leluasa memasang wajah tawa lepas dari segala masalah. Padahal jika pulang kembali kerumah mereka akan kembali menangis dan meratapi diri dan berasumsi mengapa hidup bisa semenderita begini.

Padahal hanya butuh cerita, sungguh tinggal membuka mulut dan berkata. Tapi nyatanya ego dan gengsi menjadi satu-satunya alasan mengapa cerita mengumpal dan beranak pinak disela-sela otak dan perasaan. Sehingga tidak sedikit juga orang mati bunuh diri karena tidak mampu bercerita dan mengungkapkan perasaan didalam isi kepala

Namun ternyata, bercerita tidak sesederhana itu.

Bercerita bahkan lebih rumit dari rumus-rumus kalkulus, di soal-soal ulangan harian yang mendadak dirajai oleh beberapa kepala yang cemas. Pun lebih rumit rumit dari proses metamorfosis seekor ulat sebelum menejadi kupu-kupu, yang kemudian hanya diberi waktu tak lebih dari seminggu untuk dipuji kecantikannya.

Sejatinya akhirnya semua orang ingin bercerita, cerita sudah menjadi bahan pokok selain nasi dan kouta internet. Bagaimana jika orang disekitarmu itu butuh cerita, dan kau sebenarnya tahu jika dia ingin bercerita. Namun kamu malah diam saja, padahal mengajaknya berbicara sama saja akan meringankan hidupnya. Dia hanya butuh pendengar, bukan penolong. Walaupun dengan mendengarnya secara tidak langsung kamu juga menolongnya. Tapi jika dia butuh bantuan atas masalahnya, menolongpun juga kenapa tidak? Ah meracau seperti ini memang kadang tidak guna.

***

Akhirnya kamu menutup ceritamu, raut mimik muka lega kau pasang pengganti wajah layumu. Ceritamu usai, bebanmu telah ringan sekarang, dan senyum simpul terpampang ketika aku mencoba merayumu. Mudah-mudahan kamu tetap ceria seperti itu. Sehingga nanti giliranku cerita tentang bagaimana masalahku, masalah yang kau ciptakan setelah senyummu itu memporak-porandakan isi hatiku.

Hai kalian para mahasiswa cupu, merasa nggak kalo sebenarnya kalian itu tertinggal, kuno, kusam, kumal, kurang gaul dan enggak keren git...


Hai kalian para mahasiswa cupu, merasa nggak kalo sebenarnya kalian itu tertinggal, kuno, kusam, kumal, kurang gaul dan enggak keren gitu di kampus UTUM sini? Lihat kampus kalian saja terletak dipinggir pulau, ditengah-tengah sawah, dikelilingi hama tomcat dan diteror oleh begal montor. Astaga begitu kasihan sekali nasib kalian, niat mau belajar dengan bener-bener malah dapat masalah lingkungan yang ngga bener, mendengar realita seperti itu terkadang saya merasa sedih.

Hahaha, bercanda kelues. Akan tetapi ingat rasanya tentang mahasiswa-mahasiswa tempo doeloe,  yang selalu turun kejalan berteriak-teriak minta keadailan dan selalu meneror para birokrat negara dengan menduduki gedung wakil rakyat. Doeloe mahasiswa selalu tekenal dengan ketegasan dan kritisnya saat orasi dijalan. Tapi dijaman tuyul melenium kini mahasiswa berpikiran bahwa aksi seperti turun kejalan adalah aksi yang tidak Hits lagi dilakukan.  Namanya juga mahasiswa masa kini selain jago mencuri hati para dosen dan menjilat ludah sendiri, Mahasiswa sekarang lebih memilih mengaploud foto dengan latar belakang gedung perpisahan (lawan kata) di ig dengan menandai akun jasa reaploud hits dengan tagar-tagar yang nauzubillah banget contoh: #mahasiswautumhits, #mahasiswautumkekinian, #mahasiswautumcaem, #mahasiswautumkerenkayakyongleki, #mahasiswautumsebutkanlimajenisikan  dan lain-lain deh, sampai sampai lebih banyak tagarnya ketimbang likenya hihihhi. Dengan begitulah mahasiswa kampus UTUM merasa eksis dengan berharap foto mereka direaploud oleh akun hits tersebut. Walaupun terkadang cuman yang berparas cantik dan berwajah ganteng aja yang diposting ulang. sedangkan yang tidak memenuhi kadar setandarisasi foto hits mahasiswa kampus UTUM tersebut ya tag kalian akan dihadiahi like doang.

Sebenarnya ada banyak cara untuk terkenal di kampus UTUM ini tanpa harus mengaploud foto hits dan sebenarnya untuk terkenal di kampus inipun sangat amatlah mudah. Berikut saya punya sedikit tips yang mudah-mudahan berfaedah dan dapat membantu kalian para mahasiwa UTUM yang fakir hits. Berikut kiatnya mohon dipahami:

1.GONDRONG


Dengan berambut gondrong kalian para laki-laki akan menjadi bahan pembicaraan bagi mahasiswa-mahasiswa cewek gemes di kampus ini, karena image orang gondrong di UTUM sini sangatlah keren, bahkan sampai ada komunitasnya juga, pernah saya coba kepo-kepo akun media sosial mereka dan entah mengapa saya jadi merinding. Orang-orangnya sangar-sangar semua: ada yang gondrong sepinggul kayak kuntilanak penghuni GSC, ada yang gondrongnya mengembang keriting kayak sarang tawon madu, ada yang gondrongnya nanggung seperti andika kangen band dan ada juga yang rambutnya gondrong, wajahnya sangar, berkumis, keker, pokoknya punya kesan garang deh namun sebenarnya dia penyanyang dan humanis banget, ada? Ada kok orang saya kenal dia. Jadi dengan berambut gondrong disini kalian akan mendapat nilai plus dari para gadis-gadis unyu. Mereka akan berkata: “Ih mas itu lo gondrong, bikin cepet-cepet mandi besar saja” ada juga yang gini “aku suka lo sama mas gondrong yang itu, soalnya kesanya tegas dan penyayang banget, lihat! rambut bersihnya aja diperhatiin apa lagi akuu” dan ada lagi “aduhh mas itu rambutnya aja panjang apa lagi anunya” ~maksutnya umurnya mas-mas yang gondrong itu lo wah wah.

2. PENAMPILAN REBEL


Saat kuliah pakailah celana jean yang sobek-sobek, semakin lebar sobeknya semakin hits anda. Ya gitulah selogan ngga guna tentang penampilan rebel. Tapi emang bener dengan berpenampilan rebel, kalian akan menjadi pusat perhatian di kampus ini. Seperti apa sih berpenampilan rebel itu? Ya berpenampilan yang liar gitu lo. Seperti contoh saat kuliah pake celana jeans sobek-sobek dari paha hingga mata kaki, pake kaos bergambar tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Soeharto, Semar, Captain america atau Shigeo takeda  biar dikira aktifis kampus gitu. Setelah itu kalian ngga usah mandi saat kuliah, bau badan menjadi aset yang harus dijaga oleh mahasiswa rebel. Dan juga karena semakin tebal blonggot atau daki maka semakin rebel kalian. Dan otomatis kalian akan semakin hits dilingkuangan kampus UTUM ini. Apa lagi kalian akan mudah sekali terkenal di mata dosen dengan melakukan hal ini. Mudahnya terkenal.

3.       3.KUTU BUKU JALAN KAKI

Emang contoh yang ini sangat jarang ada di kampus UTUM, tapi mungkin kalian bisa berinisiatif melakukannya. Yaitu dengan membawa buku ditangan minimal empat dan di dalam tas minimal lima, terserah buku apa saja, buku pemikiran, buku komunis, buku agama, buku porno atau apalah terserah pokoknya buku. Usahakan yang tebel biar dilihat orang kesannya pinter gitu, kemana-mana bawa buku. Dengan begitu kesan orang cerdas, kritis, idealis dan sipilis menjadi satu kesatuan yang terbrandid otomatis pada diri kalian. Kalian melakukan tips yang ini harus dengan jalan kaki, kenapa? Ya biar kalian dianggap sok idealis gitu. Ngga mau naik montor karena bermerk dan dibuat dari negara Jepun bukan buatan negeri sendiri, tapi punya hp bermerk samsus. Dengan begitu kalian pasti akan jadi bahan perbincangan dikalangan pemuda dan pemudi kampus UTUM. Karena spesies seperti ini sangatlah langka disini. Bayangin saja dengan cukup membawa buku mondar-manidir pos satpam – gedung rektorat saja bisa terkenal. Kalo ngga percaya coba saja.

4.       4.SELALU BERTANYA DI DALAM KELAS

Pokoknya jika dosen membuka sesi pertanyaan di dalam kelas, langsung saja acungkan tangan sambil senyum unjuk gigi, pede aja. Tanya apa saja, persetan dengan bibit, bobot dan bebet pertanyaan kalian. Yang penting bertanya. Mau setema atau tidak dengan matkul yang diajarkan yang penting acungkan dua jari, eh jangan nanti dikira kader pak ahik, acungkan satu jari saja, eh jangan juga kan yang nomor satu sudah kalah, bagaiman kalo tiga jari? Emm kayaknya juga jangan deh. Kenapa? Ntar ngomong sedikit dikira money politic. Pokok tanya saja pada dosen kalian. Terserah tanya apa aja. Semakin ribet dan belibet kosa kata tanya kalian maka semakin hits. Misalnya pakailah kosa kata yang mungkin cuman dimengerti dosenmu saja seperti contoh jika kalian anak teknik informatika atau sistem informasi, kombinasikan pertanyaan komputer kalian dengan filsafat seperti contoh “Pak bagaimana jika sistem operasi pada komputer karlmarc bisa tidak dapat diretas? Apakah karlmarc mefirewall komputernya dengan ideologi materialismenya pak? Dan apa bila iya bagaimana caranya pak?” dengan begitu dosen kalian akan malu-malu tai karena bingung dan merasa tidak bisa menjawab pertanyaan cerdas dari kalian. Dengan begitu beliau akan menjawab pertanyaan kalian sekenanya atau jika kalian beruntung jam kuliah akan diselesaikan saat itu juga, benar-benar dosen yang bermartabat.


Begitulah tips yang mudah-mudahan berguna bagi kalian yang ingin terkenal di kampus ini. Sebenarnya hits tak melulu mengunggah foto keren di medsos. Dengan mencoba tips saya diatas, pasti kalian akan terkenal bak aktivis atau badan eksekutif. Kalo ngga percaya coba saja, manjur kok mamah tau sendiri. Jika masih saja ingin terkenal bergurulah kalian ke warung-warung kopi terdekat kalian akan menemukan banyaknya kakak-kakak aktivis bercerita cuma-cuma bagaimana caranya hits dikampus yang kecil namun dengan masalah sosial yang besar ini. Semoga pak Dosen tidak menyuruh kami menyebutkan lima nama-nama ikan dilaut.